Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label hidup

she's not blinds

MATA ada, tetapi tidak dapat berfungsi dengan baik. Melihat, tetapi yang terlihat tidak begitu jelas. Orang-orang mengatakan buta, meski sejatinya orang-orang tahu aku tidak buta. Kelainan mata yang orang tahu hanya buta. Penglihatan buram dan tidak fokus, sering menabrak objek di depan pun, disangka buta. Padahal tidak, ini bukan buta, ini tentang penglihatan yang seharusnya masih bisa berfungsi, tetapi tidak normal.  she can see, but she sees something blurry  ••• "BUTA, YA?" Ya, meskipun aku yakin sekali mereka—si pengolok tanpa dasar itu tahu bahwa tidak ada buta di mataku. Hanya perkara tidak sengaja menabrak tubuh sisi kanannya. Menurutku, olokannya hanya sebuah serangan untuk melindungi diri dia sendiri dari emosi negatif tidak terkontrol. Semua orang tahu, aku punya kekurangan di penglihatan, tetapi tidak buta. Tidak. Aku masih bisa melihat warna dan benda, meski tidak begitu jelas. Di balik bingkai lensa setebal ensiklopedia. Itu cukup membantu, tidak amat membantu,...

mengais premis

TUJUAN ? Sebentar, kauambil napas panjang untuk kemudian tertawa seakan-akan reaksi natural terhadap pertunjukan lucu. Namun, bukankah itu benar-benar komedi kehidupan? Layaknya novel-novel, premis menjadi syarat utama cerita peran utama dapat berjalan. Itulah alasan mutlak kautidak mau buang-buang waktu untuk menyentuh—apalagi membaca blurb. Menurutmu, hidup itu memuakkan. Untuk apa manusia dituntut punya tujuan, sementara semesta mempersulitnya? Berkali-kali kau dijorokkan, dilempar, dituding, sampai-sampai tujuanmu dibuat mangkrak, tidak ada perkembangan. Baru saja merajut tujuan lama, semesta sudah merundung. Seperti, hidup dan semesta saling mendorong dan membuatmu terimpit. Sebab, hidup memintamu untuk bertujuan, tetapi semesta adalah musuh bebuyutan yang siap menghadang pergerakan majumu. Kausudah jengah berteriak ngotot, menghabiskan air mata, sampai-sampai mati rasa. Terserahlah, persetan dengan peran utama! Manusia tanpa gairah dan hasrat. Begitulah orang-orang lain memberi i...

hilang

AKU telah siap akan kehilangan. Ini tentang raungan para manusia, melulu berkoar atas ketidakterimaan diri karena telah merasa kehilangan. Dalam teriak meraung, kudapati spektrum mengalun kacau mengabar pada telingaku. Kehilangan adalah masalah paling meresahkan, begitulah suara raung itu menggebu dengan emosional. Dihabiskan berhari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun-tahun untuk akhirnya bisa menerima yang telah hilang. Itu pun yang hilang masih terngiang-ngiang. Menghantui masa dengan kisah di masa lalu. Maka, dari isakan tersiksa para manusia itu, kusiapkan diri menghadapi kehilangan.  Hanya saja permasalahannya adalah, siapa atau apa yang bersedia menjadi objek untuk singgah di hidupku dan kemudian menghilang? Nyatanya, aku pun seorang diri di gumpalan bumi. Mengarungi hari-hari tanpa cerita, warnanya abu-abu. Siapa yang mau sejenak saja singgah. Bisakah aku merasai rasanya kehilangan? Bolehkah aku meresapi luka-luka untuk menggerogoti hati yang kosong? Maukah semesta mengh...

Satu paragraf hari ini

 BAGI beberapa orang mungkin aku adalah perempuan yang percaya diri. Itu menyenangkan, setelah bertahun-tahun selalu menjadi musuh bagi diri sendiri. Dalam waktu lama di kala itu, tidak sedikit menemukan diri merundung fiaik yang menjadi tameng, mengutuk perilaku yang menjadi fondasi. Baiklah, aku menerima masa lalu dengan sikap dan sifat yang anatonis terhadapmu beberapa oramg lain —bahkan bagi diri sendiri. Setidaknya, ada kesadaran yang membuatku belajar dan memperbaiki diri versi terbaik yang kubisa. Namun, butuh waktu lama bagiku untuk menerima diri secara lahir. I am not beautiful woman, aku selalu menghibur diri dengan menggaungkan bahwa tidak ada orang yang jelek. Itu berhasil, tetapi tidak selalu. Dalam beberapa waktu, akan kembali meragukan diri sendiri. Kadang-kadang akan merasa kembali tidak layak. Tidak layak untuk dicintai dan dimiliki. Sejatinya, aku tahu, bahwa aku ada aku yang harus lebih dulu mencintai dan memiliki diri seutuhnya. Aki berusaha untuk itu dan berhas...

si gendut

HAI , aku adalah si gendut. Kamu tahu, kan, apa itu gendut? Sini, sini, mendekat, akan kuberi tahu apa itu gendut, apakah dia sejenis umbi-umbian, atau dia adalah makhluk yang menjijikan? Ya, apa pun itu, akan kubiarkan imajinasimu berkelana. Bebaskanlah ruang pikir kamu-kamu hingga ke alam liar. Aku tidak akan melarang dan menghakimi cara berpikir kamu-kamu. Akan tetapi, waktumu sudah habis untuk berkelana mencari makna gendut. Sebab, aku akan mengemukakan diri pada kamu-kamu. Menunjukkan secara lamgsung apa itu gendut. Nah, kamu-kamu memang teman-teman yang baik, begitu rapi untuk mencari tahu apa atau siapa itu si gendut. Jadi, aku melangkah dari balik tembok yang tipis, tetapi menyembuhyikan diriku. Pelan-pelan, tetapi aku berjalan sampai berdiri di hadapan kamu-kamu. Pertama-tama hening, aku menunggu kira-kira apakah reaksi kamu-kamu akan seperti yang ada di bayanganku? Di duniaku, banyak orang akan menertawakan si gendut, sedikit orang yang menyayangi si gendut. Kebanyakan orang...

layar tipu-tipu

BUKAN terlalu percaya diri, tetapi kuberi peringatan sekeras-kerasnya. Perlu diketahui, di balik peringatan, ada penyesalan dan kekecewaan diri yang membuncah. Akhir-akhir ini menjadi momok, meneror mental diri. Ingin membenci apa yang menjadi pemicunya, tetapi aku butuh. Nyatanya, hampir sebagian hidupku ada di sana. Ini peringatan, agar kamu-kamu tidak usah jatuh karena ekspektasi yang dibentuk hanya dalam satu kali lihat di sebuah layar penipu. Layar itu penuh tipu daya, tolong jangan mudah tergiur dengan polesan-polesan sempurna. Itu semu, nyatanya itu adalah lawan kata sempurna. Kembali kugaungkan sebuah peringatan, bahwa aku tidak seperti apa yang ada di bayangan kamu-kamu, tetapi aku hanya akan membuyarkan, meluluhlantakkan, menghancurkan apa-apa yang begitu sempurna di dalam imajinasi. Aku hanya akan membuat kamu-kamu kecewa. Aku juga. Setelah lama mengagumi diri di layar penuh tipu daya itu, akhirnya aku menyadari. Itu hanyalah rekaan yang dibuat agar diri tampak bahagia, te...

mau tertawa bersamaku?

“TUH, LAH! Temennya udah pada sidang, kamu masih nangis-nangis enggak jelas!” Itu adalah kata-kata pendukung yang benar-benar membuatku termotivasi untuk tidak merasa makin terpuruk. Bayangkan saja, ketika harus menunggu waktu lama tentang kepastian sidang proposal. Dosen tersayangku tiba-tiba mengundurkan diri. Sedikit lagi, sedikit lagi impianku untuk sempro akan terwujud. Akan tetapi, takdir begitu mulia dan baik hati karena memintaku untuk bersabar lebih lama. Hari ini adalah hari paling menyengsarakan dari hari-hari senang lainnya. Sedari tadi aku tertawa-tawa saja di sudut kamar seraya berbalas peean dengan salah satu temanku. Aku membeberkan kabar bahagia yang kudapatkan hari ini. Betapa nikmatnya perjuanganku selama ini, melawan air hujan, menempa waktu-waktu yang mendukung, dan, ya, tentu saja! Jangan lupakan si paling mendukungku, ayah dan bunda yang tidak pernah berhenti memberikan motivasi beserta saran membangun. Mereka akan membandingkanku dengan teman-temanku yang sebe...

lomba lari

AKU SUDAH SIAP-SIAP untuk bergerak, melangkah untuk menuntaskan apa yang sudah kupilih. Kulihat baik-baik orang-orang di sisi kanan dan kiriku. Mereka memasang ancang-ancang di pijakannya. Tatapan mata mereka menyorot ke depan seakan-akan menantikan garis ujung. Ada sesuatu di sana yang mesti mereka raih, tepatnya aku juga bagian dari mereka. Kuambil napas kuat-kuat untuk kemudian dibuang perlahan. Kukembalikan arah wajahku ke depan. Jujur saja, jantung sejak tadi sudah bergedup tidak karuan. Kali ini ketika pertandingan akan dimulai, gerak jantung menjadi tidak beraturan. Belum lagi suara riuh orang-orang di tribun yang tidak terdengar dengan jelas nama siapa yang disebut. Itu benar-benar distraksi yang mengganggu fokusku. Sebetulnya, bukan itu yang menjadi permasalahan. Aku hanya mencari-cari namaku di antara suara riuh yang bergema memantul di ruang terbuka ini. Setidaknya, satu saja, tetapi mengapa tidak ada namaku di sana. Kali ini kulayangkan pandangan ke arah tribun. Menatap...

masa lalu: pelajaran yang sulit diterapkan

MASA LALU katanya biarlah berlalu, dia hanya akan mengganggu seperti benalu. Masa lalu hanya menorehkan warna-warna gelap pada kehidupan yang putih. Masa lalu memberi noda pada kehidupan yang bersih dari segala masalah. Masa lalu akan kembali datang sebagai luka yang tersisa di masa depan. Masa lalu,sudah sepatutnya disudutkan di sudut ruangan yang tidak akan dijamah. Kalau perlu, masa lalu mesti diremukkan kemudian diharapkan menguap tanpa sisa. Itu anggapan orang-orang dengan masa lalu yang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang salah sebenarnya, hany saja ketika berusaha untuk meniadakan masa lalu, bukankah itu hal yang mustahil? Seperti kita berusaha menghilangkan bagian dari diri kita yang juga ikut lahir dan tumbuh bersama. Tidak masalah juga untuk membenci masa lalu, setiap dari kita punya cara menghadapi yang sesuai dengan kemampuan kita sendiri. Namun, bukankah amat disayangkan apabila masa lalu yang begitu susah payah kita lalui kemudian dienyahkan? Kadang-kadang aku juga in...

hopes and expectations

PADA AKHIRNYA , segala sesuatu ditentukan bagaimana cara kita meramu harapan dan ekspektasi sebetulnya, tidak ada yang benar-benar keliru dengan apa-apa yang diharapkan, apalagi diekspektasikan kita sama-sama tahu, semua itu murni timbul dengan sendirinya, hanya saja, berjalan lurus dengan perasaan Sementara, perasaaj manusia itu unik Pun, sementara kita lupa untuk membarengi pikiran sebagai salah satu cara logis dalam merakit solutif Akan tetapi, kadang-kadang kita terlalu memanjakan rasa sampai-sampai kita patuh untuk memupuk harapan dan ekspektasi Tanpa sadar, kita menjadi abai terhadap apa-apa yang akan dihadapi di depan sehingga melupakan bahwa ada langkah-langkah yang ditinggalkan di belakang sana Akibat terlalu sibuk merajut harapan sampai cantik, menjahit ekspektasi begitu apik. Kita jadi lupa bahwa tidak semua yang terjadi akan sesuai dengan apa yang dirajut dan dijahit Ibaratnya, bahan kain yang halus dan lembut kemudian dibuat menjadi pakaiaj untuk dipakai. Kita sebagai penj...

ketika hidup sedang berbaik hati

DI SUATU HARI di kala hidup sedang berbaik hati memberikan waktu untuk membiarkan penghuninya memilih kebahagiaan. Ketika semua manusia bersorak-sorai, melompat-lompat, berbondong-bondong meraup porsi sebanyak mungkin, menari-nari merayakan kebebasan berbahagia. Dunia seakan-akan penuh dengan warna-warni cerah yang saling bertumburan di udara. Hingar bingar yang terdengar terasa memyenangkan, dibandingkan hari sebelum-sebelumnya. Ternyata, hidup memang benar-benar sedang berbaik hati. Namun, daripada menjadi salah satu dari pada manusia-manusia itu, kamu ditemukan berpijak mematung layaknya orang aneh—nyatanya, mereka memang benar-benar memandangmu aneh. Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan kesempatan, mengabaikan kenaikan hati hidup saat ini, begitulah pertanyaan-pertanyaan mereka yang berbisik keras di sekitarmu. Akan tetapi, kamu masih diam saja, mulutmu merekat satu sama lain, bola matamu lihai menyaksikan lalu lalang yang sibuk, tubuhmu hanya diam terpaku. Telingamu sesak dengan k...

KALAH

KADANG-KADANG kamu berpikir hidup ini adalah pertandingan. Tentang berlomba-lomba dalam merampas kebahagiaan. Orang-orang tadinya tidak berpikir sama sekali, tetapi semakin hari persediaan kebahagiaan semakin menipis. Sisa bahagia yang terkikis, membuat persaingan menjadi semakin sengit. Tadinya mudah bagimu untuk setidaknya menikmati sedikit dari kebahagiaan yang ada. Namun, rasanya semakin pudar pula keyakinanmu untuk merengkuh satu per satu rasa bahagia. Segala strategi disusun sedemikian rupa. Merangkai lamat-lamat dan saksama, bagaimana sekiranya menyingkirkan para manusia kesiangan itu. Semakin disingkirikan semakin berdatangan. Kamu kewalahan, tanganmu sudah tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi mereka-mereka. Sudah layu, bahkan tubuhmu dibuat sempoyong ke sana kemari. Teriakan pekakmu pun tidak ada artinya, sudah tidak senyaring dulu kala. Kali ini, kamu seperti seonggok makhluk yang siap-siap akan roboh. Tenagamu disedot habis-habis oleh usahamu yang sia-sia. Namun, ad...

KAMU

KAMU , hai, apa kabar? Kuharap kamu hari ini baik-baik aja, ya. Meskipun ada hal-hal yang bikin kamu jadi enggak baik-baik aja, kamu bisa ceritain ke aku. Enggak perlu ceritain masalahnya kok, cukup berbagi terkait perasaan kalutmu. As long as you need, I’ll be stand to listen your feel, xixi. Sampai saat ini, rasa itu masih ada. Kamu tahu, tetapi aku enggak berharap kok. Lebih tepatnya, aku berusaha untuk menekan harapan. Aku bohong kalau aku enggak berharap. Pada akhirnya—tanpa disadari harapan itu secara otomatis akan tumbuh, tinggal bagaimana kita mengelolanya aja, ‘kan? Aku enggak tahu mau sampai kapan rasa ini terus-menerus singgah. Move on bukanlah hal mudah, sama sekali enggak mudah. Sebelumnya, aku pernah, mengalami kecewa yang akhirnya butuh waktu lama untuk pulih. Bahkan sampaj luka itu hilang—ternyata luka hati bisa hilang juga, wkwk. Kali ini, mungkin karena aku udah lebih dewasa dan lebih bisa mengontrol perasaan. Aku optimis bisa cepat pulih dari sebelumnya. Aku udah de...

JENAKA

BISA JADI orang yang duduk diam sendirian, tidak benar-benar berdiam diri. Mungkin mulutnya terkatup, pandangan mata menitik lurus tanpa tuju. Tidak ada pergerakan berarti yang diaksikan orang diam itu karena tampaknya memang berdiam. Namun, di dalam diamnya, ada dialog yang tidak kasat. Orang-orang tahunya dia berdiam karena memikirkan premis dan punchline . Namun, orang yang diam itu bukanlah pandai dalam berguyon, melainkan manusia yang menadah perasaan sumpek sampai penuh. Pada rasa yang penuh, wadahnya tidak bisa lagi menampung. Rasa sumpek yang tersisa akhirnya terjatuh ke tanah yang basah karena menadah rinai. Orang itu akhirnya memilih duduk di tepian danau. Mata kosongnya menyaksikan permukaan air yang gelap karena langit tengah menyembunyikan primadonanya. Namun, itu bukanlah sebuah persoalan yang mesti dipermasalahkan, orang itu masih menunggu-nunggu suara lain untuk menemukan penerangan yang lebih terang dari bulan. “Tadinya aku mau membiarkanmu pergi saja, kalau perlu ti...

NAKA

NAKA , dia makhluk paling menyebalkan yang ada di muka bumi ini. Dia itu lemah, dia tidak bisa beradaptasi di dunia yang keras ini. Biar kukatakan bahwa tempat kita singgah ini tidak membutuhkan orang lemah. Lebih tepatnya, hidup ini tidak peduli mau kita lemah atau kuat. Sementara aku memilih untuk kuat dibanding harus lemah. Dan Naka, selain lemah dia juga berisik. Biarlah Naka menganggapku egois atau manusia jahat sekali pun. Dia itu, tidak mengerti mauku, maunya dimengerti. Pengertian kami itu tidak sama, bahkan bertolak belakang. Naka selalu menuntut untuk menuntaskan kemauan diri yang sesungguhnya—katanya begitu. Sementtara, aku punya cara sendiri dalam menuntaskan apa yang kumau karena aku tahu apa yang kumau. Semudah itu sebenarnya, tetapi Naka tidak mudah. Orang itu tidak mudah untuk satu visi denganku, tetapi mudah sekali baginya membuatku tidak suka.  Lihat dia, seperti tulang ekor yang mengekori ke mana pun aku berjalan. Aku tidak paham, bagaimana sistem otak Naka berf...

JENA

JENA , orang itu benar-benar menguji kesabaranku. Sejak awal sudah seharusnya kupaksa diam di rumah saja. Terserahlah, aku tidak acuh kalau-kalau dia menudingku pemaksa. Pada kenyataannya, dia sendiri adalah pemaksa—ah satu lagi, dia egois. Bahkan, saat ini dia tidak menganggapku ada. Kalau saja aku tidak sayang, akan kulayangkan tamparan dan memberikan bekas merah di pipi gembulnya itu. Aku tahu bahwa Jena tidak akan mendengarkanku. Telinganya dibuat berkutat pada orang-orang di sekitarnya—kecuali aku, tentu saja. Orang yang sering kukutuk itu selalu melakukan hal-hal yang berguna, untuk orang lain bukan untuk dirinya. Kadang-kadang aku suka heran dengan bagaimana jaringan otak Jena berkaitan. Bagaimana bisa dia menjadi berguna untuk orang lain, tetapi di saat yang bersamaan dia tidak berguna untuk dirinya sendiri? Dia memang kurang ajar. Aku mendelik ketika orang-orang di sekitar menertawakan Jena. Lelucon katanya, dia suka berguyon, berbingkah laku aneh, berekspresi jelek, apa pun...