Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label keluarga

beres-beres

MAMA meracau lagi, tiap kata yang ditutur adalah sumbang, tetapi bila ditelisik dengan rasa, tidak mampu dijabarkan. Kurang ajar, khianat, sakit hati, cape, saya, mati! Kata-kata yang tidak pernah luput dari bibir pucat Mama. Aku berusaha tidak mengindahkan, tetapi perempuan yang kian kurus itu tidak membiarkanku tenang barang sehari saja. Ada kalanya darahku mendidih saking muaknya menjadi tempat sampah. Namun, wajah Mama yang kusam dan seperti tidak ada kehidupan, membuatkuku mengurungkan niat untuk memarahinya. Pada akhirnya, aku mati-matian memendam amarah dan lelah di sudut hati. Aku tahu, lama-lama akan menumpuk dan suatu saat akan meledak. Namun, siapa peduli? Hidupku sudah tidak terarah, keutuhan telah berserakan menjadi puing-puing, masa depan begitu hitam. Apa yang bisa diharapkan dari perempuan yang hidupnya babak belur? Apa yang bisa dibanggakan dari kehidupan anak perempuan yang sosok ayahnya berselingkuh? Tidak ada. Harapan sendiri sudah termasuk pelecehan bagi hidupku y...

karena aku tahu rasanya, maka aku mengerti

AKU tempat pulang kamu, dik. Jangan ragu untuk pulang. Aku adalah anak keempat Di saat yang bersamaan... aku adalah seorang adik untuk kakak-kakak perempuanku ... dan seorang kakak perempuan untuk adik-adik lelakiku Secara tidak langsung Aku tahu rasanya... menjadi seorang kakak Dan aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi seorang adik Setelah hampir dua puluh lima tahun Baeu kusadari... baru kurasakan... mengerti rasanya menjadi adik mengerti mesti bagaimana menjadi kakak Tahu caranya, mengerti kakak-kakak perempuanku mengerti adik-adik lelakiku Hari ini, kabar buruk datang lagi Aku tertawa hambae, tetapi, dik, percayalah aku sedang menangis  Mengapa hidup begitu kejam, ya? Aku memahami,  siapa pula yang mau terkenal musibah? Aku tahu ini bukan salahmu sepenuhnya Hanya saja, keadaan sedang mengujimu Bahkan, sedang mengujiku juga menguji kakak-kakak yang lain... Kita ini keluarga, Ujianmu adalah ujianku juga Aku takingin kamu merasa sendiri Mungkin dunia sibuk menghakimi...

ibuku tidak gila

IBUKU gila. Pernah, malam hari dia melotot padaku. Pupil matanya dipaksa membesar, menyorotkan kemarahan atas ketidaksukaan padaku. Sebetulnya niatku baik, hanya ingin meminta ibu dian karena hari sudah malam. Orang-orang sulit terlelap, tetapi orang-orang itu memilih tidak acuh dan berusaha memejamkan mata. Aku tidak bisa seperti itu. Racauan ibu yang terus-menerus bersuara, tidak berhenti sama sekali. Aku tidak tahu ada maksud dari kalimat yang meracau berulang kali. Namun, aku yang masih berusia 15 tahun memahami bahwa keluarga kami sedang tidak baik-baik saja setelah ayah dipaksa mengaku oleh ibu. Pengakuan yang akhirnya menjadi bumerang sekaligus hantaman kasatmata. Itu menjadi asal mula ibuku berubah total, tidak lagi seperti ibu yang kukenal. Entah gila atau bagaimana, tetapi ibu benar-benar memprihatinkan.  Aku tidak hanya memikirkan diriku sendiri, tetapi memikirkan orang lain. Takut sekali orang lain—para tetangga yang rumahnya saling berdempetan berpikiran bahwa ibuku g...

saat kecil

SAAT KECIL kita tidak pernah tahu, bagaimana dewasa menjemput kita? Kita hanya tahu caranya tertawa dan bertikai. Kita hanya memahami, kita akan tumbuh makin tinggi. Akan bekerja seperti orang-orang besar. Akan sibuk seperti Kakak-Kakak kita. Saat kecil, kita bermain bersama, membuat isi rumah jadi berantakan. Kita sama-sama terkena amarah ibu. Kemudian, kita saling melempar tatapan tajam dan saling mengalahkan. Namun, besoknya—seperti keajaiban, masalah kemarin hilang dan kita kembali bermain bersama. Kadang-kadang kita saling melindungi dari Teman-Teman menyebalkan. Kita tahu bahwa kita saling menyayangi, tetapi kita tidak pernah ada waktu untuk mengungkapkannya. Bukan masalah waktu, melainkan masalah kesiapan. ••• PADA SUATU HARI yang tidak pernah terjadi. Aku duduk di tengah-tengah dua anak laki-laki. Lebih tepatnya memaksa keduanya memberikan tempat duduk di antara mereka. Sebagai kakak perempuan, tentu harus menjadi pusat. Kita sama-sama duduk di atas loteng, sementara matahari ...

depresi

DADA itu sesak. Penuh api-api amarah, percikan kecewa memantik bakaran baru. Bak rumah dilahap si jago merah, air seakan-akan beringsut menjauh. Pisau di tangan siap-siap menancapkan diri di atas permukaan perut. Badai petir bersahutan bak melodi pengiring. Hujan deras malam itu menemani tangisan perempuan paruh baya yang sedang terluka hati dan pikirannya. Mana kala malam itu akan menjadi malam terakhir yang tragis. Marah pada takdir yang melulu buat tangis. Menyerah pada kehidupan yang begitu bengis.  ••• Sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk membenci lelaki paruh baya yang tengah terbatuk-batuk. Tubuh yang dulunya berisi, kini mengkerut. Setidaknya setelah serangan jantung menyapa hidupnya. Kini yang ada hanya rasa sesal karena telah membenci. Ada iba kian merebak mengembalikan cinta yang dulu terempas.  Kalau-kalau lelaki paruh baya itu tidak semena-mena pada perasaan. Kalau-kalau dia tidak mengkhianati cinta. Apabila saja manusia yang terbaring lemah itu tidak menodai...

di pantai klara

 SABTU pagi saat sedang menyantap soto untuk sarapan. Papa—pamanku—mengajakku ke pantai besok hari Minggu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan.  Dalam benak aku menimbang-nimbang, kira-kira bakal ikut berenang atau sekadar menikmati vibes pantai saja, ya? Mengingat agak ribet kalau harus bilas di bilik.  Setelah seharian berpikir, kemudian tidur di malam hari. Sampai esok pun tiba. Kuputuskan untuk tidak berenang dan menikmati vibes pantainya saja.  Tidak hanya itu, sambil menikmati vibes, aku pun sambil menulis artikel Travelling sebagai tanggung jawab tugas harus dikumpulkan hari ini juga.  Benar. Alasanku ikut ke lantai bisa dibilang karena aku ingin menulis. Omong-omong ini adalah artikel kedua yang kutulis di pantai sejak satu jam lalu.  Menyenangkan juga ternyata menulis di alam terbuka seperti ini. Merasa relaksasi dan pengalaman menulis jadi lebih tenang. Ditambah jarum pasir serta lautnya.  Kalau ke pantai, tujuannya pasti selalu Klara...

tantrum

SUATU KETIKA Bio mengamuk, kedua kaki gempal nan mungil menendang-nendang angin. Tangan kanan dan kiri bergantian mengusir air mata yang tidak kunjung mereda. Suara serak menggelegar, meracau, berbicara tidak jelas. Meski wajah bulat sempurna itu memerah, mencoba menarik simpati, tetapi makin kencang volume, makin tidak ada yang acuh. Sampai Bio berguling-guling di lantai, mengakibatkan baju polos dengan gambar bus tayo kotor karena lantai belum dibersihkan. "Mana cokelat Bio, Ibunnn!" Masih dengan beringas Bio melakukan atraksi bergumul dengan lantai.  Daripada membalas, seorang perempuan dengan celemek merah jambu sibuk berkutat pada panci berisi sayur mayur. Suara gertakan antara sutil dan panci yang tengah mengoseng tumbuhan masak. Meski telinga terasa dipukul-pukul karena teriak tangis Bio menyerang dengan ganas. Sampai-sampai mendidihkan hati, meletup-letupkan percikan api dalam benak. Namun, perempuan berusaha untuk tidak acuh, meski berkali-kali hatinya berteriak-ter...

lelaki tercintaku

GUMPALAN sialan ini telah membuatku terpisah jarak berpulau-pulau dengan lelaki tercinta. Meski hampir satu hari tangan kami bertaut selama perjalanan yang akan berakhir memisahkan. Namun, kunikmati sisa-sisa waktu bersama kala itu, meski harus menahan serangan pukulan di dalam kepala oleh benda kecil mematikan. Aku mengaguminya, postur gagah yang takmempan disurutkan usia. Wajah berkerut itu masih sama seperti sejak awal pertemuan, begitu bijak dan penuh keyakinan. Namun, paling-paling makin membuat terpesona genggaman tangan itu terasa kuat seakan-akan takada tempat paling aman selain cakupan telapak tangannya. Garis bibirnya memang datar, tetapi matanya menyuguhkan harapan dan doa. Takperlu dia banyak bicara, sikapnya telah mengatakan bahwa dia mencintaiku yang tengah bertaruh nyawa. Takada hal paling menyenangkan kecuali mendapati lelaki tercinta masih berdiri kokoh sampai pangkal rambut dihiasi uban.  "Saya akan terus memantau kondisi kamu dari rumah." Tangan lainnya me...

adik kita

KATANYA adik kita memang kelakuannya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Adik kita ingin hidup bebas, dia telah menjadi anak liar di luar sana. Menikmati hidup tanpa aturan dalam suatu keluarga. Menjadikan temannya sebagai tempat mengemban kebahagiaan dan meramu kenyamanan. Sementara keluarga hanya tempat adik kita nerasa jengah, jenuh, marah, dan tidak ada patuh-patuhnya sama sekali. Adik kita memang sudah remaja dan akan beranjak dewasa. Kita menjadi lepas tangan, bahkan melambaikan tangan untuk merangkul dan mengayominya kembali. Segala cara dan upaya telah dikerahkan demi membuat sdik kita nyaman bersama kita. Entah kita yang kurang telaten dalam mendidik atau memang adik kita yang sudah tidak lagi ingin kita didik. Kita memang marah karena adik kita tidak tumbuh seperti apa yang kita harapkan, kita ekpektasikan. Adik kita tetap menjadi adik kita yang tidak kita inginkan. Sejatinya, hati kita penuh kasih dan belai sayang untuknya. Namun, kita sudah lelah, sudah benar-benar menyerah....

rencana kabur dari rumah

SEBENARNYA aku mau-mau saja sih diajak kabur dari rumah. Kusimak baik-baik wajah serius adik di depanku ini. Dekil karena main layangan terus dan muram karena dimarahi habis-habisan sama bapak. Awalnya kesal, lama-lama kasihan juga. Aku mendengkus, tetapi gara-gara dia juga akhirnya aku kena damprat bapak. “Nanti lu ambil tuh pisang goreng sama bakwan di meja yang tadi dibeli sama bapak, buat pasokan aja sehari dua hari, Mbak.” Kali ini anak laki itu mulai berbisik dengan tajam seperti sorot matanya. Kuputar bola mata. “Gorengan mana kenyang sih? Nyangkut di tenggorokan doang.” Dia kembali terdiam, disapunya seisi kamar yang gelap, hanya ada cahaya lampu dari luar jendela. Kira-kira kami sudah terdiam di kamar sekitar setengah jam. Tidak berani untuk keluar kamar karena pasti akan disambut dengan pelototan bapak yang siap-siap menghunus kami. Aku tahu isi pikiran bocah tengik itu, menyelami sekiranya barang apa saja yang mesti dibawa untuk rencana kabur nanti. “Lagian ngapain sih ...

KECIMPRING

KECIMPRING , bagi kebanyakan orang mungkin ia hanya keripik singkong biasa. Namun, itu tidak akan pernah menjadi biasa-biasa saja. Setidaknya hal itu terjadi ketika aku dan Ibuk tengah berbaring bersama di atas ranjang. Sementara layar teve menampilkan seorang bintang memerankan diri sebagai penjual kecimpring. Tidak ada yang lucu dari kecimpring. Tidak ada yang lucu apalagi remeh dari penjual kecimpring. Aku dan Ibuk sama-sama tahu, itu adalah pekerjaan yang mulia. Bahkan amat mulia bagiku karenanya aku menjadi tertawa bersama Ibuk. Pemeran penjual kecimpring yang membuatku memiliki kenangan bersama Ibuk. Aku sama Ibuk, meski memiliki perbedaan karakter, tetapi aku sama Ibuk sama-sama aneh. Mungkin otak aku dan Ibuk tidak sama, tetapi aku yakin ada satu jaringan yang persis terikat sampai bentukannya sama. Buktinya, aku dan Ibuk tiba-tiba saja menertawakan kecimpring. Aku benar-benar mau minta maaf sama kecimpring. Aku dan Ibuk sama sekali tidak ada berniat menyudutkan, kami hanya ...

TIRI

AKU BINGUNG bagaimana caraku harus menyayangimu. Sampai kapan pun ini tidak akan pernah mudah. Keberadaanmu di sekitarku, mau tidak mau membuka luka lama yang kelam. Luka yang sampai saat ini tidak tahu bagaimana memulihkannya. Aku benar-benar bingung, bagaimana harus menyayangimu seraya susah payah mengubur luka lama. Namun, aku masih punya nurani. Kadang-kadang aku merasa iba, kehadiranmu adalah kesengajaan yang tidak baik-baik saja. Kamu adalah kebahagiaan bagi orangtuamu, tetapi tidak bagi kami. Sulit bagi kami untuk menerima kenyataan yang bahkan aku tidak tahu kapan kamu lahir. Ini seperti penerimaan yang tidak memiliki pilihan. Bagaimanapun kamu telah diciptakan di dunia ini dengan dua sisi yang berdistraksi. Namun, bagaimanapun kamu telah diciptakan untuk berada di dunia ini. Kamu sudah ditakdirkan untuk menjadi bagian dari kehidupan ini. Bahkan, kamu telah menjadi bagian dari hidupku tanpa kutahu. Akan tetapi, apakah saat ini kita benar-benar satu kesatuan yang semestinya? ...

NADIA

NADIA, perempuan cantik yang gue kenal dalam kehidupan ini. Seorang Mbak yang gue tau enggak mudah untuk menjadi sulung. Ada beban-beban yang akhirnya harus ditumpu. Apalagi setelah mami dan papi sama-sama pergi untuk selamanya. Mbak, kalau mau kita kilas balik, ada enggak, ya, momen paling menyenangkan di antara kita? Sayang banget, sih, kita enggak begitu dekat. Komunikasi kita sebagai hubungan saudara kandung, pun, kurang. Tapi, ada beberapa momen yang masih kuingat sampai saat ini. Mbak inget enggak? Waktu lo nganterin gue les malam ke rumah Mbak Endang? Waktu itu lo belum lancar buat nyetir motor, tapi maksa buat nganter gue, wkwk. Gue sih seneng-seneng aja, ya, soalnya kan mager juga jalan kaki, haha. Hampir mau nyampe rumah Mbak Endang, tapi tiba-tiba motor mati. Bukan karena motornya eror, tapi lo-nya yang eror, wkwk. Terus lo peritahin gue untuk jangan kasih tau papi, ya, Vin. Gue sih manggut aja, ya, wkwk. Akhirnya sampe deh ke rumah Mbak Endang. Terus otak lo kan encer ya...