Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cinta

wedding nightmares

ALIKA tidak ingin menikah, di sisi lain Tante Isabel sibuk menanyakan tanggal pernikahan yang belum pasti. Sebetulnya Alika mau mengeluarkan sumpah serapah, tetapi itu tidak mungkin mengingat Tante Isabel adalah adik dari papanya. Kini, bagi Alika, pernikahan adalah mimpi buruk. Bagaimana tidak? Sebagai pendengar baik untuk teman-temannya yang sudah menikah. Tentu Alika mendapatkan berbagai cerita di balik pernikahan yang dia kira indah. Misalnya seperti saat ini. Di sudut kafe minimalis, tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung sibuk dengan dunia sendiri. Alika tidak berhenti mengelus-elus bahu Selma. Perempuan berkerudung hitam itu berusaha menahan tangisannya sambil menunduk. Sementara, suaranya bergetar dan terhalangi sesak. Entah bagaimana, tetapi sesak itu merambat masuk ke dalam diri Alika. “Gue cape sebenernya, Ka…* ujar Selma di tengah susahnya menahan pekik tangis seraya mengelus perut, “tapi gue enggak bisa lepasin Andre. Anak gue belum lahir.” Dalam hati, Alika me...

ketika cinta tidak sesuai kebutuhan

 Katanya mencintai itu bagian dari kehidupan, hidup tanpa cinta tidak akan berjalan semestinya. Namun, bukan berarti harus mendewakan cinta, ‘kan? Awalnya berpikir bahwa cinta adalah segalanya. Sampai akhirnya merasa, selama ini terjebak luka dalam cinta. Cinta untuk tentang kebutuhan, bukan kebutaan. Cinta itu membuat kita merasa butuh, bukan buta. Kadang kala, manusia suka salah langkah, jatuh cinta lebih dulu sebelum memikirkan apakah yang dicintai sesuai kebutuhan? Pernahkah berpikir, selama mengemban cinta, mengapa makin mencintai justru mengenal patah hati—jika takpernah patah hati, abaikan? Sudah saatnya belajar untuk melihat dan menemukan apa yang sesuai dengan kebutuhan, baru kemudian belajar mencintai apa yang dibutuhkan. Sebab, kadang kala, kita terlalu mencintai sesuatu yang bukan kebutuhan. Pada akhirnya terluka karena tidak bisa bersama. Lantas, apakah jika mencintai sesuatu kebutuhan, akan terbebas dari luka? Tidak juga. Namun, mencintai seseorang yang tidak bisa mem...

merayakan patah hati

  KINANTI terpingkal-pingkal, matanya tidak berhenti mengeluarkan air. Sesekali di sela tawanya, terdengar bengek. Tangan pun ikut bereaksi, memukul-mukul pelan bagian diri yang hisa dipukul sebagai bentuk luapan emosi. Ekspresi atas respons sesuatu yamg amat lucu. Bagi Kinanti, apa yang dialaminya sungguh lelucon. Susah payah mengumpulkan keberanian selama berhari-hari hanya untuk beberapa menit yang berakhir tragis—lelucon paling parah tahun ini. Tidak ada yang bisa berusaha menghentikan aksi Kinanti. Teman Kinanti berperan sebagai penonton, wajah temannya pilu mengabu, tidak ada bahagia-bahagia sama sekali. Ruangan kelas yang hanya terisi mereka berdua terus memantulkan gelak tawa dari satu sudut ke sudut lain. Sahutan gema itu begitu miris, mengiris siapa pun yang mendengar dan mengetahui peristiwanya. “Cowok itu emang gila, sih!” Kinanti bersahut di tengah-tengah tawa. Dia sampai merunduk saking lelah dan sakit karena banyak tertawa. *Bayangin aja, njir, enam bulan gue sama d...

cara mudah jatuh cinta

TIDAK PERLU susah payah untuk jatuh cinta, kadang kala kamu hanya perlu duduk diam mengamati orang-orang. Mana kala ada perilaku dan tutur dari salah satu mampu menarik perhatian. Bahkan, tidak perlu sepengamat itu, simak saja baik-baik wajah sau per satu, apakah sesuai dengan 'kriteria keelokan'-mu? Bila sesuai, lantas tinggal bidik, panahi hatinya dengan asmara, putuskan untuk jatuh cinta. Atau mudahnya, tidak perlulah melakukan apa pun, tidak usah ada rencana untuk jatuh cinta. Toh, nanti juga takdir akan menuntunmu pada masa itu—masa itu akan datang, entah sadar atau tidak. Jalani saja hari-harimu, tanpa ikatan untuk harus mencintai. Lalui saja masalah-masalahmu tanpa ada pikiran berjibaku dengan masalah percintaan. Setidaknya, asumsi-asumsi itu harusnya mampu memahamimu betapa jatuh cinta itu mudah. Semudah kamu terbuai dalam perhatian dan kepedulian seorang lelaki yang sebelumnya tidak pernah ada seorang lelaki pun memperlakukanmu sebaik itu. ••• LELAKI itu tertimpa sial...

perempuan di balik layar

PADA akhirnya, aku akan tenggelam juga dari ratusan nama-nama tertera pada layar kaca dalam genggamanmu. Perlahan-lahan, terkalahkan oleh realitas terdekatmu. Memutuskan untuk jatuh hati padamu di balik layar, hanyalah pengujian nyali yang sampai kapan pun tidak akan pernah menampakkan dirimu di hadapanku. Cinta memang butuh pengorbanan, tetapi itu berlaku bagi mereka yang saling mencintai. Kasus ini, hanya aku, kamu tidak, sama sekali tidak akan pernah. Seyogyanya, aku mudah terlupakan, layaknya satu butir pasir di hamparan pesisir pantai. Lamat-lamat, tentangku akan dilumat jarak dan sedikitnya interaksi. Kemudian, kamu sibuk bersama duniamu dan aku sibuk untuk berdamai dengan patah hati untuk ke sekian kalinya.  ••• TATKALA kubuka mata dari mimpi tentang lelaki yang tidak kunjung datang. Maka, nama kamu kembali hadir kalau-kalau pagi menyapa. Sebab, kamulah lelaki yang kutunggu-tunggu di ujung bunga tidur. Tidak usah ditanya apakah kamu juga memikirkan hal sama denganku? Jawaba...

perempuan pukul empat sore

PEREMPUAN itu, dalam tutur lembut penuh penekanan, menguarkan aroma kejujuran berjanji untuk menemuiku pukul empat sore di halte dekat toko bunga. Aku tahu, perempuan itu amat menyukai harum bunga-bunga yang berbeda, bersatu padu dalam satu ruangan, tetapi tali aroma para bunga itu terjalin sampai halte tempatku duduk. Sayang sekali, toko itu berada di letak tidak strategis, para bus dan mikrolet berlalu lalang, mangkal di halte mencari mangsa untuk memenuhi isi perutnya. Kadang-kadang kendaraan pribadi juga berkontribusi mengeluarkan asap-asap dari bokong mereka. Nahas, netra berbingkai lensa bulat tebal ini tidak henti-hentinya menyimak bus atau mikrolet berpijak di depan, mengamati satu per satu penumpang yang sekiranya sudah sampai tujuan di sini. Tepatnya, menantikan perempuan membawa janji untuk menuju ke sini. Sebetulnya, itu tidak perlu karena ini masih pukul tiga lewat tiga puluh sore. Namun, mana tahu perempuan itu jauh tepat waktu, kan? Dalam penantian mendebarkan, sumbu ma...

sudah

KALAU SUDAH , ya, sudah. Sebetulnya sudah dari kala itu telah mencapai titik sudahnya. Namun, kamu tidak juga mau sudah. Pikirmu belum. Masih ada waktu, katamu. Entah memang masih ada waktu atau memang kamu memaksa waktu untuk ada. Ada membiarkan kembali mengusahakan apa yang sebetulnya benar-benar sudah. Dengan segala luka yang tidak ingin dirasai. Kamu hanya belum menerima bahwa semuanya menjadi berkesudahan. Kamu hanya tidak mau berkata, "Ya sudah." akan sesuatu yang telah menjadi sudah.  ••• KAMU juga maunya sudah. Akan tetapi, percikan harapan tersisa tidak henti-hentinya beraksi. Dalam tiap interaksi sekecil apa pun, percikan bisa-bisa saja meledak dan akhirnya berkobar. Namun, kamu menikmatinya. Kamu merasainya. Kamu membiarkannya.  Kamu tahu bahwa harapan itu tidak akan ada jawaban. Setelah kenyataan kamu ketahui, bahwa harapan telah raib ditampar kenyataan yang berbalik dengan ekspektasi. Memang dasar kamu bebal dan nakal. Memilih untuk terjebak dalam luka tidak berk...

diserang pikiran sendiri

PIKIRANKU sakit. Dia sakit jiwa, meski tidak berjiwa. Dia keji, meski tidak punya hati. Dengan tega, berulang kali menusuk, memukul, menyabet, merajam, apa pun kegiatan pencipta derita dan luka. Si paling lihai merangkai kalimat-kalimat kosong. Tidak ada artinya. Alih-alih solusi, tiap kata membuat pucat pasi. Ia memang songkak, hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak memikirkan hati yang dibuat porak poranda karena betapa suntuk pikiran berkecamuk. Kalau diam-diam saja membusuk, bila dibiarkan akan makin mengamuk. Tempurung sialan, beban bertambah hanya untuk mengurusi pikiran mematikan.  ••• Rasa-rasanya dia kesal atau marah padaku. Tiba-tiba saja perilakunya lebih banyak diam. Tidak begitu gubris pada sekitar, sebenarnya lebih padaku. Berkali-kali kudekati, mencoba bertanya basa basi yang akhirnya berakhir mengutuki diri sendiri. Mana suka dia basa-basi, Bodoh! Bisa-bisa makin kacau dan makin tidak berselera saja untuk sekadar melihatku.  Jadi, sedari tadi kuketuk-ketuk me...

ingkar

SURI tidak akan berjanji lagi, terakhir berjanji, berujung ingkar. Itu janji pada dirinya sendiri yang berjanji tidak akan pernah membuat janji kembali. Kalau-kalau keadaan memaksanya membuat janji, Suri siap angkat senjata setinggi mungkin. Harga dirinya sudah runtuh karena melulu ingkar. Kali ini, biarkan Suri menumpuk kembali harga diri yang telah berceceran tanpa nilai.  Semua itu karena cinta. Tatkala hati terpatah-patah, saat itu janji tidak akan melanjutkan harapan mencuat. Tidak hanya berjanji pada dirinya sendiri, tetapi digaungkan pula kepada teman-teman yang jengah akan kelabilan Suri. Perempuan bertubuh pendek, tetapi labilnya setinggi atap langit. Rambut pendek hitam menutupi isi kepala—pikirannya serumit ikatan benang merah mati. Mata sipit berpendar menguarkan binar, menenggelamkan pilu. Hidung mungil yang setahunan ini mampu menahan sumbatan akibat patah hati. Belum lagi bibir setipis asa akan timbal balik perasaan tidak berkesudahan. Entah Suri yang tidak ingin us...

ada yang lebih penting daripada mengunci pintu

ADIPATI datang di kala surya disembunyikan awan kelabu. Biasanya, aku akan selalu merasa khawatir apabila pasukan air meluruh. Meskipun kemudian menjadi perempuan pasrah karena dibasahi hujan. Berteduh hanya membuang-buang waktuku. Lebih baik berlari untuk sampai tujuan, daripada diam terpaku di bawah teduh mengamati titik-titik berjatuhan kemudian memantul mengenai aspal. Kali ini, Adipati datang bersama payung transparan, terulur di hadapanku. Sementara aku diam saja, di tengah-tengah gemuruh yang berusaha mengusik pikiran penuh pertimbangan. Apa harus kuterima payung tersebut, sudah lama sekali tidak melangkah tanpa takut basah di bawah para untaian air hujan. Namun, apabila kuterima payung itu, apa diri ini akan mampu terselamatkan kembali? "Kurasa kamu selalu meringkuk di balik selimut saat musim hujan, benar?" Sialnya, bukan hanya menerima payung itu, melainkan membiarkan aku dan Adipati bernaung di bawah hujan. Entah ini harus terjadi atau tidak, bisikan hati menjadi ...

merah muda, biru, jingga

LELAKI itu hadir di kisah-kisah yang hampa. Hadir membawa pasukan warna-warni. Kehangatan dari sikapmya yang begitu lembut. Senyuman manis seakan-akan lukisan paling indah yang pernah kulihat selama kisah ini berjalan. Ingat sekali, di kala tangannya terulur memberi warna-warni yang bisa kupilih. Awalnya aku ragu, tetapi sudah lama sekali kisahku hanya berwarna abu-abu. Kupikir tidak ada salahnya untuk mengambil beberapa warna untuk menemani abu-abu, bila perlu mengikis abu-abu. Sejujurnya, aku audah jengah diselimuti dengan abu-abu yang menguar. Jikalau kubalik tubuh, atau berjalan sedikit ke belakang. Tidak ada warna-warni yang menyenangkan kecuali di halaman-halaman awal kisah. itu terlalu jauh. Lantas, mana mungkin separuh hidupku hanya dipenuhi abu-abu, kan? Dengan penuh pertimbangan, kuambil warna merah muda, biru, dan jingga. Hanya tiga, tidak banyak.  "Terima kasih," kataku pada lelaki itu yang kini mengangguk dan tersenyum. Tanpa membalas, dia berbalik dan meninggal...