Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Main bareng Deaty [Eps. 4,. Pillow Talk]

BEBERAPA hari lalu merencanakan untuk main dengan teman gue si Desty. Waktu itu janjian main di hari Minggu. Sebetulnya ada sedikit masalah. Biasanya kan kita orang main di Simpur, sebuah pusat perbelanjaan dengan penawaran makanan minuman yang murah meriah. Masalahnya di Simpur itu nggak ada mushola. Di sekitar Simpur pun nggak ada mushola.  Dan biasanya gue sama Desti selalu main dari pagi sampai sore. Biar puas karena mainnya cuma sebulan sekali atau dua bulan sekali. Ya namanya juga irit dari pemasukan Enggak banyak komen jadi harus hemat. Dan masalahnya juga gue sekarang kalau keluar-keluar mulai pakai make up. Kalau gue berangkat main dari pagi, otomatis make up Gue bakal luntur dan kehapus saat berwudhu. Tapi kemarin rencananya kita mau makan bakso di dekat rumah Desty. Harganya murah dan enak banget. Tadinya mau otw makan bakso jam 10-an. Abis dari tukang bakso rencananya ke masjid terdekat untuk salat sambil make up-an. Habis itu baru jalan kaki ke Simpur jaraknya enggak ...

Dikenalin Cowok & BB Naik [Eps. 3, Pillow Talk]

 PAGI hari dimulai dengan teman gue, si Yuli tiba-tiba nge-chat dan video call. Ternyata dia mau ngenalin gue sama temen suaminya. Katanya sih temen suaminya lagi nyari yang serius. Dan kebetulan Gue memang lagi sendiri. Sebetulnya gue udah siap, kok, untuk menempuh hidup baru alias menikah.  Udah lama gue mendambakan sebuah rumah tangga yang penuh dengan tantangan. Tapi, setiap ada yang mau ngenalin gue ke cowok, gue selalu ragu. Gue adalah cewek yang minder dan enggak percaya diri dengan makhluk yang namanya cowok. Kayak memangnya ada, ya, yang mau sama gue? Gue punya ketakutan, takut mengecewakan teman Hidup gue. Tapi, sebenarnya gue mencoba mengatasi ketakutan itu dengan meningkatkan value diri gue. Contohnya dengan gue belajar nulis, bikin blog, personal branding di Instagram. Gue berusaha menutupi kepercayaan diri gue yang enggak kuliah ini dengan memanfaatkan skill dalam diri gue. Sebetulnya itu ampuh, tapi setiap Mbak gue dan temen gue mau mengenalkan gue dengan seoran...

Sebel dan Seneng [Eps. 2, Pillow Talk]

SEBENERNYA sih keluarga gue ini support, kok, sama hobi gue. Tapi, ya, gue bingung, sih, soalnya enggak se-effort itu juga. Kayak tadi pagi gue share link artikel buat bantu komentar dan harus tanpa anonim. Sampai sekarang enggak ada yang komentar. Ada yang komentar cuma emot live doang dan namanya Tanpa Dikenal. Huft, sebel! Akhirnya, gue hapus aja, deh, chat gue tadi. Mending nunggu BW di OBS aja.  Itu sebelan gue aja, sih. Ya, pikiran positif gue mungkin pada sibuk. Ya, ya, yaaaaaaa udahlah ya. Tapi, di sisi lain gue ngerasa seneng. Seneng karena tadi abis rapat bulanan rutinan bareng PABOBA. Ya, seperti biasa bahas evaluasi dan persiapan. Gue seneng banget bisa bergabung di komunitas PABOBA. Apa yang gue mau ada di sana. Di sana gue bisa diskusi dan banyak belajar. Belajar disiplin dan tanggung jawab dengan tugas atau jobdesc yang udah gue komit sejak awal. Rapat kali ini salah satu agendanya adalah SERTIJAB PJ Event. Kak N—partner aku sebelumnya—sekarang akan meneruskan tingka...

Hujan, Panas, Dosa, dan Produktif [Eps. 1, Pillow Talk]

 HARI ini hujannya jauh lebih menenangkan daripada hujan kemarin malam. Kemarin lumayan bikin gue khawatir, sih. Masalahnya kamar gue di atas. Tembok sebelah kanan ini langsung berhadapan dengan langit. Apa lagi kemarin geledeknya gede banget, jedar jeder gitu. Hujannya juga kemarin lebat banget. Depan kamar gue ini, kan, depannya balkon dan genteng. Suaranya berisik. Malam ini oukul 22.30, hujannya ringan dan menenangkan. Pas banget untuk pengantar tidur. Jadi enggak usah setel musik alam atau relaksasi di YouTube. Langsung alamiah dari langit. Tapi, ya, alhamdulillah banget karena dikasih hujan. Kalau dibandingkan tahun kemarin, tahun ini lebih banyak hari hujannya. Gue inget banget, tahun kemarin bulan segini itu masih kemarau-kemaraunya. Iklim sekarang terasa banget berubahnya. Suhu matahari juga makin terik. Kalau siang langsung beras gosong. Apa lagi gue anaknya gampang keringetan. Sisi positifnya jemuran jadi cepet kering, udahnya enggak ada lagi kayanya. Tapi, cuaca yang ma...

beres-beres

MAMA meracau lagi, tiap kata yang ditutur adalah sumbang, tetapi bila ditelisik dengan rasa, tidak mampu dijabarkan. Kurang ajar, khianat, sakit hati, cape, saya, mati! Kata-kata yang tidak pernah luput dari bibir pucat Mama. Aku berusaha tidak mengindahkan, tetapi perempuan yang kian kurus itu tidak membiarkanku tenang barang sehari saja. Ada kalanya darahku mendidih saking muaknya menjadi tempat sampah. Namun, wajah Mama yang kusam dan seperti tidak ada kehidupan, membuatkuku mengurungkan niat untuk memarahinya. Pada akhirnya, aku mati-matian memendam amarah dan lelah di sudut hati. Aku tahu, lama-lama akan menumpuk dan suatu saat akan meledak. Namun, siapa peduli? Hidupku sudah tidak terarah, keutuhan telah berserakan menjadi puing-puing, masa depan begitu hitam. Apa yang bisa diharapkan dari perempuan yang hidupnya babak belur? Apa yang bisa dibanggakan dari kehidupan anak perempuan yang sosok ayahnya berselingkuh? Tidak ada. Harapan sendiri sudah termasuk pelecehan bagi hidupku y...

wedding nightmares

ALIKA tidak ingin menikah, di sisi lain Tante Isabel sibuk menanyakan tanggal pernikahan yang belum pasti. Sebetulnya Alika mau mengeluarkan sumpah serapah, tetapi itu tidak mungkin mengingat Tante Isabel adalah adik dari papanya. Kini, bagi Alika, pernikahan adalah mimpi buruk. Bagaimana tidak? Sebagai pendengar baik untuk teman-temannya yang sudah menikah. Tentu Alika mendapatkan berbagai cerita di balik pernikahan yang dia kira indah. Misalnya seperti saat ini. Di sudut kafe minimalis, tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung sibuk dengan dunia sendiri. Alika tidak berhenti mengelus-elus bahu Selma. Perempuan berkerudung hitam itu berusaha menahan tangisannya sambil menunduk. Sementara, suaranya bergetar dan terhalangi sesak. Entah bagaimana, tetapi sesak itu merambat masuk ke dalam diri Alika. “Gue cape sebenernya, Ka…* ujar Selma di tengah susahnya menahan pekik tangis seraya mengelus perut, “tapi gue enggak bisa lepasin Andre. Anak gue belum lahir.” Dalam hati, Alika me...

ketika cinta tidak sesuai kebutuhan

 Katanya mencintai itu bagian dari kehidupan, hidup tanpa cinta tidak akan berjalan semestinya. Namun, bukan berarti harus mendewakan cinta, ‘kan? Awalnya berpikir bahwa cinta adalah segalanya. Sampai akhirnya merasa, selama ini terjebak luka dalam cinta. Cinta untuk tentang kebutuhan, bukan kebutaan. Cinta itu membuat kita merasa butuh, bukan buta. Kadang kala, manusia suka salah langkah, jatuh cinta lebih dulu sebelum memikirkan apakah yang dicintai sesuai kebutuhan? Pernahkah berpikir, selama mengemban cinta, mengapa makin mencintai justru mengenal patah hati—jika takpernah patah hati, abaikan? Sudah saatnya belajar untuk melihat dan menemukan apa yang sesuai dengan kebutuhan, baru kemudian belajar mencintai apa yang dibutuhkan. Sebab, kadang kala, kita terlalu mencintai sesuatu yang bukan kebutuhan. Pada akhirnya terluka karena tidak bisa bersama. Lantas, apakah jika mencintai sesuatu kebutuhan, akan terbebas dari luka? Tidak juga. Namun, mencintai seseorang yang tidak bisa mem...

karena aku tahu rasanya, maka aku mengerti

AKU tempat pulang kamu, dik. Jangan ragu untuk pulang. Aku adalah anak keempat Di saat yang bersamaan... aku adalah seorang adik untuk kakak-kakak perempuanku ... dan seorang kakak perempuan untuk adik-adik lelakiku Secara tidak langsung Aku tahu rasanya... menjadi seorang kakak Dan aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi seorang adik Setelah hampir dua puluh lima tahun Baeu kusadari... baru kurasakan... mengerti rasanya menjadi adik mengerti mesti bagaimana menjadi kakak Tahu caranya, mengerti kakak-kakak perempuanku mengerti adik-adik lelakiku Hari ini, kabar buruk datang lagi Aku tertawa hambae, tetapi, dik, percayalah aku sedang menangis  Mengapa hidup begitu kejam, ya? Aku memahami,  siapa pula yang mau terkenal musibah? Aku tahu ini bukan salahmu sepenuhnya Hanya saja, keadaan sedang mengujimu Bahkan, sedang mengujiku juga menguji kakak-kakak yang lain... Kita ini keluarga, Ujianmu adalah ujianku juga Aku takingin kamu merasa sendiri Mungkin dunia sibuk menghakimi...

gantung, sisanya hilang

KADANG aku berpikir diam-diam, apa iya semua lelaki sama saja? Menyemburkan rayuan gombal, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terang-terangan mengungkapkan perasaan. Awalnya aku merasa tidak enak hati, sehingga berusaha menutur penolakan dengan halus. Namun, makin lama, aku terlatih menjadi galak dan jutek. Tidak tanggung-tanggung, sebelum keberadaan salah satu dari mereka mendekat, sudah lebih dulu kuberi peringatan berupa tatapan tajam, wajah garang, napas membara. Itu sukses, buktinya mereka langsung menyingkir dan mundur perlahan-lahan. Ah, seharusnya kulakukan saja hal konyol ini sejak awal, tidak usah susah payah sok baik—ujung-ujungnya aku juga yang repot. Setidaknya sudah beberapa hari ini hidupku jauh lebih tenang dari para lelaki tidak jelas itu. Jadi, aku lebih leluasa berkeliaran di area kampus ke sana kemari. Sebetulnya, tidak ada jam kelas—ya, dosen plontos selalu mengubah jam yang sudah ditentukan, tetapi tidak apa, paling tidak aku dapat bernapas dari mata kuliah pen...

merayakan patah hati

  KINANTI terpingkal-pingkal, matanya tidak berhenti mengeluarkan air. Sesekali di sela tawanya, terdengar bengek. Tangan pun ikut bereaksi, memukul-mukul pelan bagian diri yang hisa dipukul sebagai bentuk luapan emosi. Ekspresi atas respons sesuatu yamg amat lucu. Bagi Kinanti, apa yang dialaminya sungguh lelucon. Susah payah mengumpulkan keberanian selama berhari-hari hanya untuk beberapa menit yang berakhir tragis—lelucon paling parah tahun ini. Tidak ada yang bisa berusaha menghentikan aksi Kinanti. Teman Kinanti berperan sebagai penonton, wajah temannya pilu mengabu, tidak ada bahagia-bahagia sama sekali. Ruangan kelas yang hanya terisi mereka berdua terus memantulkan gelak tawa dari satu sudut ke sudut lain. Sahutan gema itu begitu miris, mengiris siapa pun yang mendengar dan mengetahui peristiwanya. “Cowok itu emang gila, sih!” Kinanti bersahut di tengah-tengah tawa. Dia sampai merunduk saking lelah dan sakit karena banyak tertawa. *Bayangin aja, njir, enam bulan gue sama d...