Langsung ke konten utama

Postingan

Dikenalin Cowok & BB Naik [Eps. 3, Pillow Talk]

 PAGI hari dimulai dengan teman gue, si Yuli tiba-tiba nge-chat dan video call. Ternyata dia mau ngenalin gue sama temen suaminya. Katanya sih temen suaminya lagi nyari yang serius. Dan kebetulan Gue memang lagi sendiri. Sebetulnya gue udah siap, kok, untuk menempuh hidup baru alias menikah.  Udah lama gue mendambakan sebuah rumah tangga yang penuh dengan tantangan. Tapi, setiap ada yang mau ngenalin gue ke cowok, gue selalu ragu. Gue adalah cewek yang minder dan enggak percaya diri dengan makhluk yang namanya cowok. Kayak memangnya ada, ya, yang mau sama gue? Gue punya ketakutan, takut mengecewakan teman Hidup gue. Tapi, sebenarnya gue mencoba mengatasi ketakutan itu dengan meningkatkan value diri gue. Contohnya dengan gue belajar nulis, bikin blog, personal branding di Instagram. Gue berusaha menutupi kepercayaan diri gue yang enggak kuliah ini dengan memanfaatkan skill dalam diri gue. Sebetulnya itu ampuh, tapi setiap Mbak gue dan temen gue mau mengenalkan gue dengan seoran...

Sebel dan Seneng [Eps. 2, Pillow Talk]

SEBENERNYA sih keluarga gue ini support, kok, sama hobi gue. Tapi, ya, gue bingung, sih, soalnya enggak se-effort itu juga. Kayak tadi pagi gue share link artikel buat bantu komentar dan harus tanpa anonim. Sampai sekarang enggak ada yang komentar. Ada yang komentar cuma emot live doang dan namanya Tanpa Dikenal. Huft, sebel! Akhirnya, gue hapus aja, deh, chat gue tadi. Mending nunggu BW di OBS aja.  Itu sebelan gue aja, sih. Ya, pikiran positif gue mungkin pada sibuk. Ya, ya, yaaaaaaa udahlah ya. Tapi, di sisi lain gue ngerasa seneng. Seneng karena tadi abis rapat bulanan rutinan bareng PABOBA. Ya, seperti biasa bahas evaluasi dan persiapan. Gue seneng banget bisa bergabung di komunitas PABOBA. Apa yang gue mau ada di sana. Di sana gue bisa diskusi dan banyak belajar. Belajar disiplin dan tanggung jawab dengan tugas atau jobdesc yang udah gue komit sejak awal. Rapat kali ini salah satu agendanya adalah SERTIJAB PJ Event. Kak N—partner aku sebelumnya—sekarang akan meneruskan tingka...

Hujan, Panas, Dosa, dan Produktif [Eps. 1, Pillow Talk]

 HARI ini hujannya jauh lebih menenangkan daripada hujan kemarin malam. Kemarin lumayan bikin gue khawatir, sih. Masalahnya kamar gue di atas. Tembok sebelah kanan ini langsung berhadapan dengan langit. Apa lagi kemarin geledeknya gede banget, jedar jeder gitu. Hujannya juga kemarin lebat banget. Depan kamar gue ini, kan, depannya balkon dan genteng. Suaranya berisik. Malam ini oukul 22.30, hujannya ringan dan menenangkan. Pas banget untuk pengantar tidur. Jadi enggak usah setel musik alam atau relaksasi di YouTube. Langsung alamiah dari langit. Tapi, ya, alhamdulillah banget karena dikasih hujan. Kalau dibandingkan tahun kemarin, tahun ini lebih banyak hari hujannya. Gue inget banget, tahun kemarin bulan segini itu masih kemarau-kemaraunya. Iklim sekarang terasa banget berubahnya. Suhu matahari juga makin terik. Kalau siang langsung beras gosong. Apa lagi gue anaknya gampang keringetan. Sisi positifnya jemuran jadi cepet kering, udahnya enggak ada lagi kayanya. Tapi, cuaca yang ma...

beres-beres

MAMA meracau lagi, tiap kata yang ditutur adalah sumbang, tetapi bila ditelisik dengan rasa, tidak mampu dijabarkan. Kurang ajar, khianat, sakit hati, cape, saya, mati! Kata-kata yang tidak pernah luput dari bibir pucat Mama. Aku berusaha tidak mengindahkan, tetapi perempuan yang kian kurus itu tidak membiarkanku tenang barang sehari saja. Ada kalanya darahku mendidih saking muaknya menjadi tempat sampah. Namun, wajah Mama yang kusam dan seperti tidak ada kehidupan, membuatkuku mengurungkan niat untuk memarahinya. Pada akhirnya, aku mati-matian memendam amarah dan lelah di sudut hati. Aku tahu, lama-lama akan menumpuk dan suatu saat akan meledak. Namun, siapa peduli? Hidupku sudah tidak terarah, keutuhan telah berserakan menjadi puing-puing, masa depan begitu hitam. Apa yang bisa diharapkan dari perempuan yang hidupnya babak belur? Apa yang bisa dibanggakan dari kehidupan anak perempuan yang sosok ayahnya berselingkuh? Tidak ada. Harapan sendiri sudah termasuk pelecehan bagi hidupku y...

wedding nightmares

ALIKA tidak ingin menikah, di sisi lain Tante Isabel sibuk menanyakan tanggal pernikahan yang belum pasti. Sebetulnya Alika mau mengeluarkan sumpah serapah, tetapi itu tidak mungkin mengingat Tante Isabel adalah adik dari papanya. Kini, bagi Alika, pernikahan adalah mimpi buruk. Bagaimana tidak? Sebagai pendengar baik untuk teman-temannya yang sudah menikah. Tentu Alika mendapatkan berbagai cerita di balik pernikahan yang dia kira indah. Misalnya seperti saat ini. Di sudut kafe minimalis, tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung sibuk dengan dunia sendiri. Alika tidak berhenti mengelus-elus bahu Selma. Perempuan berkerudung hitam itu berusaha menahan tangisannya sambil menunduk. Sementara, suaranya bergetar dan terhalangi sesak. Entah bagaimana, tetapi sesak itu merambat masuk ke dalam diri Alika. “Gue cape sebenernya, Ka…* ujar Selma di tengah susahnya menahan pekik tangis seraya mengelus perut, “tapi gue enggak bisa lepasin Andre. Anak gue belum lahir.” Dalam hati, Alika me...

ketika cinta tidak sesuai kebutuhan

 Katanya mencintai itu bagian dari kehidupan, hidup tanpa cinta tidak akan berjalan semestinya. Namun, bukan berarti harus mendewakan cinta, ‘kan? Awalnya berpikir bahwa cinta adalah segalanya. Sampai akhirnya merasa, selama ini terjebak luka dalam cinta. Cinta untuk tentang kebutuhan, bukan kebutaan. Cinta itu membuat kita merasa butuh, bukan buta. Kadang kala, manusia suka salah langkah, jatuh cinta lebih dulu sebelum memikirkan apakah yang dicintai sesuai kebutuhan? Pernahkah berpikir, selama mengemban cinta, mengapa makin mencintai justru mengenal patah hati—jika takpernah patah hati, abaikan? Sudah saatnya belajar untuk melihat dan menemukan apa yang sesuai dengan kebutuhan, baru kemudian belajar mencintai apa yang dibutuhkan. Sebab, kadang kala, kita terlalu mencintai sesuatu yang bukan kebutuhan. Pada akhirnya terluka karena tidak bisa bersama. Lantas, apakah jika mencintai sesuatu kebutuhan, akan terbebas dari luka? Tidak juga. Namun, mencintai seseorang yang tidak bisa mem...

karena aku tahu rasanya, maka aku mengerti

AKU tempat pulang kamu, dik. Jangan ragu untuk pulang. Aku adalah anak keempat Di saat yang bersamaan... aku adalah seorang adik untuk kakak-kakak perempuanku ... dan seorang kakak perempuan untuk adik-adik lelakiku Secara tidak langsung Aku tahu rasanya... menjadi seorang kakak Dan aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi seorang adik Setelah hampir dua puluh lima tahun Baeu kusadari... baru kurasakan... mengerti rasanya menjadi adik mengerti mesti bagaimana menjadi kakak Tahu caranya, mengerti kakak-kakak perempuanku mengerti adik-adik lelakiku Hari ini, kabar buruk datang lagi Aku tertawa hambae, tetapi, dik, percayalah aku sedang menangis  Mengapa hidup begitu kejam, ya? Aku memahami,  siapa pula yang mau terkenal musibah? Aku tahu ini bukan salahmu sepenuhnya Hanya saja, keadaan sedang mengujimu Bahkan, sedang mengujiku juga menguji kakak-kakak yang lain... Kita ini keluarga, Ujianmu adalah ujianku juga Aku takingin kamu merasa sendiri Mungkin dunia sibuk menghakimi...