Langsung ke konten utama

Postingan

karena aku tahu rasanya, maka aku mengerti

AKU tempat pulang kamu, dik. Jangan ragu untuk pulang. Aku adalah anak keempat Di saat yang bersamaan... aku adalah seorang adik untuk kakak-kakak perempuanku ... dan seorang kakak perempuan untuk adik-adik lelakiku Secara tidak langsung Aku tahu rasanya... menjadi seorang kakak Dan aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi seorang adik Setelah hampir dua puluh lima tahun Baeu kusadari... baru kurasakan... mengerti rasanya menjadi adik mengerti mesti bagaimana menjadi kakak Tahu caranya, mengerti kakak-kakak perempuanku mengerti adik-adik lelakiku Hari ini, kabar buruk datang lagi Aku tertawa hambae, tetapi, dik, percayalah aku sedang menangis  Mengapa hidup begitu kejam, ya? Aku memahami,  siapa pula yang mau terkenal musibah? Aku tahu ini bukan salahmu sepenuhnya Hanya saja, keadaan sedang mengujimu Bahkan, sedang mengujiku juga menguji kakak-kakak yang lain... Kita ini keluarga, Ujianmu adalah ujianku juga Aku takingin kamu merasa sendiri Mungkin dunia sibuk menghakimi...

gantung, sisanya hilang

KADANG aku berpikir diam-diam, apa iya semua lelaki sama saja? Menyemburkan rayuan gombal, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terang-terangan mengungkapkan perasaan. Awalnya aku merasa tidak enak hati, sehingga berusaha menutur penolakan dengan halus. Namun, makin lama, aku terlatih menjadi galak dan jutek. Tidak tanggung-tanggung, sebelum keberadaan salah satu dari mereka mendekat, sudah lebih dulu kuberi peringatan berupa tatapan tajam, wajah garang, napas membara. Itu sukses, buktinya mereka langsung menyingkir dan mundur perlahan-lahan. Ah, seharusnya kulakukan saja hal konyol ini sejak awal, tidak usah susah payah sok baik—ujung-ujungnya aku juga yang repot. Setidaknya sudah beberapa hari ini hidupku jauh lebih tenang dari para lelaki tidak jelas itu. Jadi, aku lebih leluasa berkeliaran di area kampus ke sana kemari. Sebetulnya, tidak ada jam kelas—ya, dosen plontos selalu mengubah jam yang sudah ditentukan, tetapi tidak apa, paling tidak aku dapat bernapas dari mata kuliah pen...

merayakan patah hati

  KINANTI terpingkal-pingkal, matanya tidak berhenti mengeluarkan air. Sesekali di sela tawanya, terdengar bengek. Tangan pun ikut bereaksi, memukul-mukul pelan bagian diri yang hisa dipukul sebagai bentuk luapan emosi. Ekspresi atas respons sesuatu yamg amat lucu. Bagi Kinanti, apa yang dialaminya sungguh lelucon. Susah payah mengumpulkan keberanian selama berhari-hari hanya untuk beberapa menit yang berakhir tragis—lelucon paling parah tahun ini. Tidak ada yang bisa berusaha menghentikan aksi Kinanti. Teman Kinanti berperan sebagai penonton, wajah temannya pilu mengabu, tidak ada bahagia-bahagia sama sekali. Ruangan kelas yang hanya terisi mereka berdua terus memantulkan gelak tawa dari satu sudut ke sudut lain. Sahutan gema itu begitu miris, mengiris siapa pun yang mendengar dan mengetahui peristiwanya. “Cowok itu emang gila, sih!” Kinanti bersahut di tengah-tengah tawa. Dia sampai merunduk saking lelah dan sakit karena banyak tertawa. *Bayangin aja, njir, enam bulan gue sama d...

pelangi yang tidak pulang

  NASIB jadi orang tua, makin masa, ruang gerak dibuat terseok-seok. Setelah salat subuh di musala—untung tidak begitu jauh dari rumah—Darto melangkah pelan menuju dapur, tangan kurus itu memegangi tembok, hadan sedikit membungkuk. Pelan-pelan, sampai di dekat meja makan. Darto sudah tahu apa yang ada di dalam tudung saji bambu, dalam ingatan pendek, lelaki paruh baya masih ingat lauk yang dia makan tadi malam. Perlahan ditariknya kursi kayu, duduk di sana, termenung saja. Hanya memandang tudung saji sekilas, kemudian beralih ke jendela tanpa tirai, menatap langit gelap di sana, bintang-bintang sudah mulai bepergian, mundur, giliran matahari yang akan menyongsong. Suara jangkrik di luar pun perlahan-lahan mulai menjauh malam. Tersisa embusan angin yang kadang-kadang menerobos masuk melalui ventilasi udara. Andai Darto tahu, betapa langit tidak pernah sanggup ditatap mata nanar nan sayu. Betapa langit begitu tidak tega mendapati tiap subuh, wajah pilu di antara garis-garis keriput....

cara mudah jatuh cinta

TIDAK PERLU susah payah untuk jatuh cinta, kadang kala kamu hanya perlu duduk diam mengamati orang-orang. Mana kala ada perilaku dan tutur dari salah satu mampu menarik perhatian. Bahkan, tidak perlu sepengamat itu, simak saja baik-baik wajah sau per satu, apakah sesuai dengan 'kriteria keelokan'-mu? Bila sesuai, lantas tinggal bidik, panahi hatinya dengan asmara, putuskan untuk jatuh cinta. Atau mudahnya, tidak perlulah melakukan apa pun, tidak usah ada rencana untuk jatuh cinta. Toh, nanti juga takdir akan menuntunmu pada masa itu—masa itu akan datang, entah sadar atau tidak. Jalani saja hari-harimu, tanpa ikatan untuk harus mencintai. Lalui saja masalah-masalahmu tanpa ada pikiran berjibaku dengan masalah percintaan. Setidaknya, asumsi-asumsi itu harusnya mampu memahamimu betapa jatuh cinta itu mudah. Semudah kamu terbuai dalam perhatian dan kepedulian seorang lelaki yang sebelumnya tidak pernah ada seorang lelaki pun memperlakukanmu sebaik itu. ••• LELAKI itu tertimpa sial...

she's not blinds

MATA ada, tetapi tidak dapat berfungsi dengan baik. Melihat, tetapi yang terlihat tidak begitu jelas. Orang-orang mengatakan buta, meski sejatinya orang-orang tahu aku tidak buta. Kelainan mata yang orang tahu hanya buta. Penglihatan buram dan tidak fokus, sering menabrak objek di depan pun, disangka buta. Padahal tidak, ini bukan buta, ini tentang penglihatan yang seharusnya masih bisa berfungsi, tetapi tidak normal.  she can see, but she sees something blurry  ••• "BUTA, YA?" Ya, meskipun aku yakin sekali mereka—si pengolok tanpa dasar itu tahu bahwa tidak ada buta di mataku. Hanya perkara tidak sengaja menabrak tubuh sisi kanannya. Menurutku, olokannya hanya sebuah serangan untuk melindungi diri dia sendiri dari emosi negatif tidak terkontrol. Semua orang tahu, aku punya kekurangan di penglihatan, tetapi tidak buta. Tidak. Aku masih bisa melihat warna dan benda, meski tidak begitu jelas. Di balik bingkai lensa setebal ensiklopedia. Itu cukup membantu, tidak amat membantu,...

ibuku tidak gila

IBUKU gila. Pernah, malam hari dia melotot padaku. Pupil matanya dipaksa membesar, menyorotkan kemarahan atas ketidaksukaan padaku. Sebetulnya niatku baik, hanya ingin meminta ibu dian karena hari sudah malam. Orang-orang sulit terlelap, tetapi orang-orang itu memilih tidak acuh dan berusaha memejamkan mata. Aku tidak bisa seperti itu. Racauan ibu yang terus-menerus bersuara, tidak berhenti sama sekali. Aku tidak tahu ada maksud dari kalimat yang meracau berulang kali. Namun, aku yang masih berusia 15 tahun memahami bahwa keluarga kami sedang tidak baik-baik saja setelah ayah dipaksa mengaku oleh ibu. Pengakuan yang akhirnya menjadi bumerang sekaligus hantaman kasatmata. Itu menjadi asal mula ibuku berubah total, tidak lagi seperti ibu yang kukenal. Entah gila atau bagaimana, tetapi ibu benar-benar memprihatinkan.  Aku tidak hanya memikirkan diriku sendiri, tetapi memikirkan orang lain. Takut sekali orang lain—para tetangga yang rumahnya saling berdempetan berpikiran bahwa ibuku g...