Langsung ke konten utama

Postingan

she's not blinds

MATA ada, tetapi tidak dapat berfungsi dengan baik. Melihat, tetapi yang terlihat tidak begitu jelas. Orang-orang mengatakan buta, meski sejatinya orang-orang tahu aku tidak buta. Kelainan mata yang orang tahu hanya buta. Penglihatan buram dan tidak fokus, sering menabrak objek di depan pun, disangka buta. Padahal tidak, ini bukan buta, ini tentang penglihatan yang seharusnya masih bisa berfungsi, tetapi tidak normal.  she can see, but she sees something blurry  ••• "BUTA, YA?" Ya, meskipun aku yakin sekali mereka—si pengolok tanpa dasar itu tahu bahwa tidak ada buta di mataku. Hanya perkara tidak sengaja menabrak tubuh sisi kanannya. Menurutku, olokannya hanya sebuah serangan untuk melindungi diri dia sendiri dari emosi negatif tidak terkontrol. Semua orang tahu, aku punya kekurangan di penglihatan, tetapi tidak buta. Tidak. Aku masih bisa melihat warna dan benda, meski tidak begitu jelas. Di balik bingkai lensa setebal ensiklopedia. Itu cukup membantu, tidak amat membantu,...

ibuku tidak gila

IBUKU gila. Pernah, malam hari dia melotot padaku. Pupil matanya dipaksa membesar, menyorotkan kemarahan atas ketidaksukaan padaku. Sebetulnya niatku baik, hanya ingin meminta ibu dian karena hari sudah malam. Orang-orang sulit terlelap, tetapi orang-orang itu memilih tidak acuh dan berusaha memejamkan mata. Aku tidak bisa seperti itu. Racauan ibu yang terus-menerus bersuara, tidak berhenti sama sekali. Aku tidak tahu ada maksud dari kalimat yang meracau berulang kali. Namun, aku yang masih berusia 15 tahun memahami bahwa keluarga kami sedang tidak baik-baik saja setelah ayah dipaksa mengaku oleh ibu. Pengakuan yang akhirnya menjadi bumerang sekaligus hantaman kasatmata. Itu menjadi asal mula ibuku berubah total, tidak lagi seperti ibu yang kukenal. Entah gila atau bagaimana, tetapi ibu benar-benar memprihatinkan.  Aku tidak hanya memikirkan diriku sendiri, tetapi memikirkan orang lain. Takut sekali orang lain—para tetangga yang rumahnya saling berdempetan berpikiran bahwa ibuku g...

saat kecil

SAAT KECIL kita tidak pernah tahu, bagaimana dewasa menjemput kita? Kita hanya tahu caranya tertawa dan bertikai. Kita hanya memahami, kita akan tumbuh makin tinggi. Akan bekerja seperti orang-orang besar. Akan sibuk seperti Kakak-Kakak kita. Saat kecil, kita bermain bersama, membuat isi rumah jadi berantakan. Kita sama-sama terkena amarah ibu. Kemudian, kita saling melempar tatapan tajam dan saling mengalahkan. Namun, besoknya—seperti keajaiban, masalah kemarin hilang dan kita kembali bermain bersama. Kadang-kadang kita saling melindungi dari Teman-Teman menyebalkan. Kita tahu bahwa kita saling menyayangi, tetapi kita tidak pernah ada waktu untuk mengungkapkannya. Bukan masalah waktu, melainkan masalah kesiapan. ••• PADA SUATU HARI yang tidak pernah terjadi. Aku duduk di tengah-tengah dua anak laki-laki. Lebih tepatnya memaksa keduanya memberikan tempat duduk di antara mereka. Sebagai kakak perempuan, tentu harus menjadi pusat. Kita sama-sama duduk di atas loteng, sementara matahari ...

perempuan di balik layar

PADA akhirnya, aku akan tenggelam juga dari ratusan nama-nama tertera pada layar kaca dalam genggamanmu. Perlahan-lahan, terkalahkan oleh realitas terdekatmu. Memutuskan untuk jatuh hati padamu di balik layar, hanyalah pengujian nyali yang sampai kapan pun tidak akan pernah menampakkan dirimu di hadapanku. Cinta memang butuh pengorbanan, tetapi itu berlaku bagi mereka yang saling mencintai. Kasus ini, hanya aku, kamu tidak, sama sekali tidak akan pernah. Seyogyanya, aku mudah terlupakan, layaknya satu butir pasir di hamparan pesisir pantai. Lamat-lamat, tentangku akan dilumat jarak dan sedikitnya interaksi. Kemudian, kamu sibuk bersama duniamu dan aku sibuk untuk berdamai dengan patah hati untuk ke sekian kalinya.  ••• TATKALA kubuka mata dari mimpi tentang lelaki yang tidak kunjung datang. Maka, nama kamu kembali hadir kalau-kalau pagi menyapa. Sebab, kamulah lelaki yang kutunggu-tunggu di ujung bunga tidur. Tidak usah ditanya apakah kamu juga memikirkan hal sama denganku? Jawaba...

perempuan pukul empat sore

PEREMPUAN itu, dalam tutur lembut penuh penekanan, menguarkan aroma kejujuran berjanji untuk menemuiku pukul empat sore di halte dekat toko bunga. Aku tahu, perempuan itu amat menyukai harum bunga-bunga yang berbeda, bersatu padu dalam satu ruangan, tetapi tali aroma para bunga itu terjalin sampai halte tempatku duduk. Sayang sekali, toko itu berada di letak tidak strategis, para bus dan mikrolet berlalu lalang, mangkal di halte mencari mangsa untuk memenuhi isi perutnya. Kadang-kadang kendaraan pribadi juga berkontribusi mengeluarkan asap-asap dari bokong mereka. Nahas, netra berbingkai lensa bulat tebal ini tidak henti-hentinya menyimak bus atau mikrolet berpijak di depan, mengamati satu per satu penumpang yang sekiranya sudah sampai tujuan di sini. Tepatnya, menantikan perempuan membawa janji untuk menuju ke sini. Sebetulnya, itu tidak perlu karena ini masih pukul tiga lewat tiga puluh sore. Namun, mana tahu perempuan itu jauh tepat waktu, kan? Dalam penantian mendebarkan, sumbu ma...

mengais premis

TUJUAN ? Sebentar, kauambil napas panjang untuk kemudian tertawa seakan-akan reaksi natural terhadap pertunjukan lucu. Namun, bukankah itu benar-benar komedi kehidupan? Layaknya novel-novel, premis menjadi syarat utama cerita peran utama dapat berjalan. Itulah alasan mutlak kautidak mau buang-buang waktu untuk menyentuh—apalagi membaca blurb. Menurutmu, hidup itu memuakkan. Untuk apa manusia dituntut punya tujuan, sementara semesta mempersulitnya? Berkali-kali kau dijorokkan, dilempar, dituding, sampai-sampai tujuanmu dibuat mangkrak, tidak ada perkembangan. Baru saja merajut tujuan lama, semesta sudah merundung. Seperti, hidup dan semesta saling mendorong dan membuatmu terimpit. Sebab, hidup memintamu untuk bertujuan, tetapi semesta adalah musuh bebuyutan yang siap menghadang pergerakan majumu. Kausudah jengah berteriak ngotot, menghabiskan air mata, sampai-sampai mati rasa. Terserahlah, persetan dengan peran utama! Manusia tanpa gairah dan hasrat. Begitulah orang-orang lain memberi i...

sudah

KALAU SUDAH , ya, sudah. Sebetulnya sudah dari kala itu telah mencapai titik sudahnya. Namun, kamu tidak juga mau sudah. Pikirmu belum. Masih ada waktu, katamu. Entah memang masih ada waktu atau memang kamu memaksa waktu untuk ada. Ada membiarkan kembali mengusahakan apa yang sebetulnya benar-benar sudah. Dengan segala luka yang tidak ingin dirasai. Kamu hanya belum menerima bahwa semuanya menjadi berkesudahan. Kamu hanya tidak mau berkata, "Ya sudah." akan sesuatu yang telah menjadi sudah.  ••• KAMU juga maunya sudah. Akan tetapi, percikan harapan tersisa tidak henti-hentinya beraksi. Dalam tiap interaksi sekecil apa pun, percikan bisa-bisa saja meledak dan akhirnya berkobar. Namun, kamu menikmatinya. Kamu merasainya. Kamu membiarkannya.  Kamu tahu bahwa harapan itu tidak akan ada jawaban. Setelah kenyataan kamu ketahui, bahwa harapan telah raib ditampar kenyataan yang berbalik dengan ekspektasi. Memang dasar kamu bebal dan nakal. Memilih untuk terjebak dalam luka tidak berk...