Langsung ke konten utama

Postingan

mengais premis

TUJUAN ? Sebentar, kauambil napas panjang untuk kemudian tertawa seakan-akan reaksi natural terhadap pertunjukan lucu. Namun, bukankah itu benar-benar komedi kehidupan? Layaknya novel-novel, premis menjadi syarat utama cerita peran utama dapat berjalan. Itulah alasan mutlak kautidak mau buang-buang waktu untuk menyentuh—apalagi membaca blurb. Menurutmu, hidup itu memuakkan. Untuk apa manusia dituntut punya tujuan, sementara semesta mempersulitnya? Berkali-kali kau dijorokkan, dilempar, dituding, sampai-sampai tujuanmu dibuat mangkrak, tidak ada perkembangan. Baru saja merajut tujuan lama, semesta sudah merundung. Seperti, hidup dan semesta saling mendorong dan membuatmu terimpit. Sebab, hidup memintamu untuk bertujuan, tetapi semesta adalah musuh bebuyutan yang siap menghadang pergerakan majumu. Kausudah jengah berteriak ngotot, menghabiskan air mata, sampai-sampai mati rasa. Terserahlah, persetan dengan peran utama! Manusia tanpa gairah dan hasrat. Begitulah orang-orang lain memberi i...

sudah

KALAU SUDAH , ya, sudah. Sebetulnya sudah dari kala itu telah mencapai titik sudahnya. Namun, kamu tidak juga mau sudah. Pikirmu belum. Masih ada waktu, katamu. Entah memang masih ada waktu atau memang kamu memaksa waktu untuk ada. Ada membiarkan kembali mengusahakan apa yang sebetulnya benar-benar sudah. Dengan segala luka yang tidak ingin dirasai. Kamu hanya belum menerima bahwa semuanya menjadi berkesudahan. Kamu hanya tidak mau berkata, "Ya sudah." akan sesuatu yang telah menjadi sudah.  ••• KAMU juga maunya sudah. Akan tetapi, percikan harapan tersisa tidak henti-hentinya beraksi. Dalam tiap interaksi sekecil apa pun, percikan bisa-bisa saja meledak dan akhirnya berkobar. Namun, kamu menikmatinya. Kamu merasainya. Kamu membiarkannya.  Kamu tahu bahwa harapan itu tidak akan ada jawaban. Setelah kenyataan kamu ketahui, bahwa harapan telah raib ditampar kenyataan yang berbalik dengan ekspektasi. Memang dasar kamu bebal dan nakal. Memilih untuk terjebak dalam luka tidak berk...

depresi

DADA itu sesak. Penuh api-api amarah, percikan kecewa memantik bakaran baru. Bak rumah dilahap si jago merah, air seakan-akan beringsut menjauh. Pisau di tangan siap-siap menancapkan diri di atas permukaan perut. Badai petir bersahutan bak melodi pengiring. Hujan deras malam itu menemani tangisan perempuan paruh baya yang sedang terluka hati dan pikirannya. Mana kala malam itu akan menjadi malam terakhir yang tragis. Marah pada takdir yang melulu buat tangis. Menyerah pada kehidupan yang begitu bengis.  ••• Sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk membenci lelaki paruh baya yang tengah terbatuk-batuk. Tubuh yang dulunya berisi, kini mengkerut. Setidaknya setelah serangan jantung menyapa hidupnya. Kini yang ada hanya rasa sesal karena telah membenci. Ada iba kian merebak mengembalikan cinta yang dulu terempas.  Kalau-kalau lelaki paruh baya itu tidak semena-mena pada perasaan. Kalau-kalau dia tidak mengkhianati cinta. Apabila saja manusia yang terbaring lemah itu tidak menodai...

diserang pikiran sendiri

PIKIRANKU sakit. Dia sakit jiwa, meski tidak berjiwa. Dia keji, meski tidak punya hati. Dengan tega, berulang kali menusuk, memukul, menyabet, merajam, apa pun kegiatan pencipta derita dan luka. Si paling lihai merangkai kalimat-kalimat kosong. Tidak ada artinya. Alih-alih solusi, tiap kata membuat pucat pasi. Ia memang songkak, hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak memikirkan hati yang dibuat porak poranda karena betapa suntuk pikiran berkecamuk. Kalau diam-diam saja membusuk, bila dibiarkan akan makin mengamuk. Tempurung sialan, beban bertambah hanya untuk mengurusi pikiran mematikan.  ••• Rasa-rasanya dia kesal atau marah padaku. Tiba-tiba saja perilakunya lebih banyak diam. Tidak begitu gubris pada sekitar, sebenarnya lebih padaku. Berkali-kali kudekati, mencoba bertanya basa basi yang akhirnya berakhir mengutuki diri sendiri. Mana suka dia basa-basi, Bodoh! Bisa-bisa makin kacau dan makin tidak berselera saja untuk sekadar melihatku.  Jadi, sedari tadi kuketuk-ketuk me...

di pantai klara

 SABTU pagi saat sedang menyantap soto untuk sarapan. Papa—pamanku—mengajakku ke pantai besok hari Minggu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan.  Dalam benak aku menimbang-nimbang, kira-kira bakal ikut berenang atau sekadar menikmati vibes pantai saja, ya? Mengingat agak ribet kalau harus bilas di bilik.  Setelah seharian berpikir, kemudian tidur di malam hari. Sampai esok pun tiba. Kuputuskan untuk tidak berenang dan menikmati vibes pantainya saja.  Tidak hanya itu, sambil menikmati vibes, aku pun sambil menulis artikel Travelling sebagai tanggung jawab tugas harus dikumpulkan hari ini juga.  Benar. Alasanku ikut ke lantai bisa dibilang karena aku ingin menulis. Omong-omong ini adalah artikel kedua yang kutulis di pantai sejak satu jam lalu.  Menyenangkan juga ternyata menulis di alam terbuka seperti ini. Merasa relaksasi dan pengalaman menulis jadi lebih tenang. Ditambah jarum pasir serta lautnya.  Kalau ke pantai, tujuannya pasti selalu Klara...

hilang

AKU telah siap akan kehilangan. Ini tentang raungan para manusia, melulu berkoar atas ketidakterimaan diri karena telah merasa kehilangan. Dalam teriak meraung, kudapati spektrum mengalun kacau mengabar pada telingaku. Kehilangan adalah masalah paling meresahkan, begitulah suara raung itu menggebu dengan emosional. Dihabiskan berhari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun-tahun untuk akhirnya bisa menerima yang telah hilang. Itu pun yang hilang masih terngiang-ngiang. Menghantui masa dengan kisah di masa lalu. Maka, dari isakan tersiksa para manusia itu, kusiapkan diri menghadapi kehilangan.  Hanya saja permasalahannya adalah, siapa atau apa yang bersedia menjadi objek untuk singgah di hidupku dan kemudian menghilang? Nyatanya, aku pun seorang diri di gumpalan bumi. Mengarungi hari-hari tanpa cerita, warnanya abu-abu. Siapa yang mau sejenak saja singgah. Bisakah aku merasai rasanya kehilangan? Bolehkah aku meresapi luka-luka untuk menggerogoti hati yang kosong? Maukah semesta mengh...

ingkar

SURI tidak akan berjanji lagi, terakhir berjanji, berujung ingkar. Itu janji pada dirinya sendiri yang berjanji tidak akan pernah membuat janji kembali. Kalau-kalau keadaan memaksanya membuat janji, Suri siap angkat senjata setinggi mungkin. Harga dirinya sudah runtuh karena melulu ingkar. Kali ini, biarkan Suri menumpuk kembali harga diri yang telah berceceran tanpa nilai.  Semua itu karena cinta. Tatkala hati terpatah-patah, saat itu janji tidak akan melanjutkan harapan mencuat. Tidak hanya berjanji pada dirinya sendiri, tetapi digaungkan pula kepada teman-teman yang jengah akan kelabilan Suri. Perempuan bertubuh pendek, tetapi labilnya setinggi atap langit. Rambut pendek hitam menutupi isi kepala—pikirannya serumit ikatan benang merah mati. Mata sipit berpendar menguarkan binar, menenggelamkan pilu. Hidung mungil yang setahunan ini mampu menahan sumbatan akibat patah hati. Belum lagi bibir setipis asa akan timbal balik perasaan tidak berkesudahan. Entah Suri yang tidak ingin us...