Langsung ke konten utama

Postingan

ingkar

SURI tidak akan berjanji lagi, terakhir berjanji, berujung ingkar. Itu janji pada dirinya sendiri yang berjanji tidak akan pernah membuat janji kembali. Kalau-kalau keadaan memaksanya membuat janji, Suri siap angkat senjata setinggi mungkin. Harga dirinya sudah runtuh karena melulu ingkar. Kali ini, biarkan Suri menumpuk kembali harga diri yang telah berceceran tanpa nilai.  Semua itu karena cinta. Tatkala hati terpatah-patah, saat itu janji tidak akan melanjutkan harapan mencuat. Tidak hanya berjanji pada dirinya sendiri, tetapi digaungkan pula kepada teman-teman yang jengah akan kelabilan Suri. Perempuan bertubuh pendek, tetapi labilnya setinggi atap langit. Rambut pendek hitam menutupi isi kepala—pikirannya serumit ikatan benang merah mati. Mata sipit berpendar menguarkan binar, menenggelamkan pilu. Hidung mungil yang setahunan ini mampu menahan sumbatan akibat patah hati. Belum lagi bibir setipis asa akan timbal balik perasaan tidak berkesudahan. Entah Suri yang tidak ingin us...

tantrum

SUATU KETIKA Bio mengamuk, kedua kaki gempal nan mungil menendang-nendang angin. Tangan kanan dan kiri bergantian mengusir air mata yang tidak kunjung mereda. Suara serak menggelegar, meracau, berbicara tidak jelas. Meski wajah bulat sempurna itu memerah, mencoba menarik simpati, tetapi makin kencang volume, makin tidak ada yang acuh. Sampai Bio berguling-guling di lantai, mengakibatkan baju polos dengan gambar bus tayo kotor karena lantai belum dibersihkan. "Mana cokelat Bio, Ibunnn!" Masih dengan beringas Bio melakukan atraksi bergumul dengan lantai.  Daripada membalas, seorang perempuan dengan celemek merah jambu sibuk berkutat pada panci berisi sayur mayur. Suara gertakan antara sutil dan panci yang tengah mengoseng tumbuhan masak. Meski telinga terasa dipukul-pukul karena teriak tangis Bio menyerang dengan ganas. Sampai-sampai mendidihkan hati, meletup-letupkan percikan api dalam benak. Namun, perempuan berusaha untuk tidak acuh, meski berkali-kali hatinya berteriak-ter...

ada yang lebih penting daripada mengunci pintu

ADIPATI datang di kala surya disembunyikan awan kelabu. Biasanya, aku akan selalu merasa khawatir apabila pasukan air meluruh. Meskipun kemudian menjadi perempuan pasrah karena dibasahi hujan. Berteduh hanya membuang-buang waktuku. Lebih baik berlari untuk sampai tujuan, daripada diam terpaku di bawah teduh mengamati titik-titik berjatuhan kemudian memantul mengenai aspal. Kali ini, Adipati datang bersama payung transparan, terulur di hadapanku. Sementara aku diam saja, di tengah-tengah gemuruh yang berusaha mengusik pikiran penuh pertimbangan. Apa harus kuterima payung tersebut, sudah lama sekali tidak melangkah tanpa takut basah di bawah para untaian air hujan. Namun, apabila kuterima payung itu, apa diri ini akan mampu terselamatkan kembali? "Kurasa kamu selalu meringkuk di balik selimut saat musim hujan, benar?" Sialnya, bukan hanya menerima payung itu, melainkan membiarkan aku dan Adipati bernaung di bawah hujan. Entah ini harus terjadi atau tidak, bisikan hati menjadi ...

merah muda, biru, jingga

LELAKI itu hadir di kisah-kisah yang hampa. Hadir membawa pasukan warna-warni. Kehangatan dari sikapmya yang begitu lembut. Senyuman manis seakan-akan lukisan paling indah yang pernah kulihat selama kisah ini berjalan. Ingat sekali, di kala tangannya terulur memberi warna-warni yang bisa kupilih. Awalnya aku ragu, tetapi sudah lama sekali kisahku hanya berwarna abu-abu. Kupikir tidak ada salahnya untuk mengambil beberapa warna untuk menemani abu-abu, bila perlu mengikis abu-abu. Sejujurnya, aku audah jengah diselimuti dengan abu-abu yang menguar. Jikalau kubalik tubuh, atau berjalan sedikit ke belakang. Tidak ada warna-warni yang menyenangkan kecuali di halaman-halaman awal kisah. itu terlalu jauh. Lantas, mana mungkin separuh hidupku hanya dipenuhi abu-abu, kan? Dengan penuh pertimbangan, kuambil warna merah muda, biru, dan jingga. Hanya tiga, tidak banyak.  "Terima kasih," kataku pada lelaki itu yang kini mengangguk dan tersenyum. Tanpa membalas, dia berbalik dan meninggal...

lelaki tercintaku

GUMPALAN sialan ini telah membuatku terpisah jarak berpulau-pulau dengan lelaki tercinta. Meski hampir satu hari tangan kami bertaut selama perjalanan yang akan berakhir memisahkan. Namun, kunikmati sisa-sisa waktu bersama kala itu, meski harus menahan serangan pukulan di dalam kepala oleh benda kecil mematikan. Aku mengaguminya, postur gagah yang takmempan disurutkan usia. Wajah berkerut itu masih sama seperti sejak awal pertemuan, begitu bijak dan penuh keyakinan. Namun, paling-paling makin membuat terpesona genggaman tangan itu terasa kuat seakan-akan takada tempat paling aman selain cakupan telapak tangannya. Garis bibirnya memang datar, tetapi matanya menyuguhkan harapan dan doa. Takperlu dia banyak bicara, sikapnya telah mengatakan bahwa dia mencintaiku yang tengah bertaruh nyawa. Takada hal paling menyenangkan kecuali mendapati lelaki tercinta masih berdiri kokoh sampai pangkal rambut dihiasi uban.  "Saya akan terus memantau kondisi kamu dari rumah." Tangan lainnya me...

the true first love

CINTA PERTAMA , orang-orang bilang cinta yang jatuh untuk pertama kalinya dalam hidup adalah cinta pertama. Orang-orang lain ada pula yang bilang cinta pertama adalah cinta yang terbungkus rapi dalam cinta monyet. Aku hanya manggut-manggut saja. Tanpa mencari tahu dan memaknai sendiri, langsung memvalidasi karena dua hal itu setidaknya pernah kurasakan. Namun, cinta tidak pernah hadir membawa makna yang sesungguhnya, kecuali manusia benar-benar menemukan satu titik untuk kemudian memaknai bahwa ini adalah cinta pertama.  Cinta pertamaku datang ketika masih remaja. Tiga tahun menemui dan kenal banyak sekali lelaki, tetapi dari menjadi murid baru sampai menjadi alumni aku hanya terpaku pada satu lelaki. Namun, kemudian butuh waktu lama untuk melepaskan bayangnya. Itu cinta yang benar-benar membuatku harus menaruh hati, entah karena apa. Orang hilang lelaki yang kusukai untuk pertama kali itu aneh. Namun, bagiku dia spesial, dahulu, kala itu. Sampai setelah lulus dan menjadi murid bar...

tatkala bait menjatuhkan hati

CINTA itu butuh perjuangan, siapa pun dirimu baik laki-laki ataupun perempuan. Begitulah untaian kalimat tegas dari para pujangga cinta yang kutemui di kala-kala sendu. Terkagum-kagum tatkala mereka mengusung dada, bertekad pada genggaman yang melayang di udara, wajah mendongak menegaskan keyakinan teguh, itulah gambaran para pujangga yang memperjuangkan cinta. Mereka adalah para laki-laki setia pada pangkuan cinta. Andailah, mereka menjatuhkan hati padaku, tersanjung pula aku sebagai perempuan beruntung. Namun, cinta memang begitu misterius, nyatanya dalam kisah ini akulah yang menjatuhkan hati kepada seorang laki-laki nun jauh dari pandangan. Meski jarak saling beradu seberapa jauh, tetapi cinta mampu membawa hatiku untuk jatuh di hadapannya.  Ingatan melayang pada diksi kaku dan umum, seharusnya tidak ada estetika. Bukan sajak, apalagi puisi, tidak ada kutipan romantis yang tersusun. Hanya ada pikiran dalam, tetapi mampu menggugah hati. Dalam pantauan dekat, di tiap-tiap kata, ...