Langsung ke konten utama

Postingan

lomba lari

AKU SUDAH SIAP-SIAP untuk bergerak, melangkah untuk menuntaskan apa yang sudah kupilih. Kulihat baik-baik orang-orang di sisi kanan dan kiriku. Mereka memasang ancang-ancang di pijakannya. Tatapan mata mereka menyorot ke depan seakan-akan menantikan garis ujung. Ada sesuatu di sana yang mesti mereka raih, tepatnya aku juga bagian dari mereka. Kuambil napas kuat-kuat untuk kemudian dibuang perlahan. Kukembalikan arah wajahku ke depan. Jujur saja, jantung sejak tadi sudah bergedup tidak karuan. Kali ini ketika pertandingan akan dimulai, gerak jantung menjadi tidak beraturan. Belum lagi suara riuh orang-orang di tribun yang tidak terdengar dengan jelas nama siapa yang disebut. Itu benar-benar distraksi yang mengganggu fokusku. Sebetulnya, bukan itu yang menjadi permasalahan. Aku hanya mencari-cari namaku di antara suara riuh yang bergema memantul di ruang terbuka ini. Setidaknya, satu saja, tetapi mengapa tidak ada namaku di sana. Kali ini kulayangkan pandangan ke arah tribun. Menatap...

miss

UNTUK YANG TELAH PERGI , apa kabarnya? Entah kamu menyaksikan atau tidak, tetapi aku ingin angin membawa betapa beratnya harapan tentang ingin bertemu padamu. Aku ragu kalau-kalau saat ini kita memandang langit yang sama. Apakah bulan di sini dengan di sana sama utuhnya seperti apa yang kulihat? Apakah bintang-bintang di sana tengah bersolek di depanmu? Jika iya, pantas saja, bintang-bintang itu tengah menemuimu. Lagi-lagi aku berharap bintang membawakan kabar tentang rasa sesak yang berlabuh di dalam diri ini. Aku tahu, sia-sia rasanya menimbun perasaan rindu. Terlebih pada kamu-kamu yang telah mengepakkan sayap kemudian terbang di balik awan-awan. Entah ke mana, tetapi mataku selalu memandang langit kalau-kalau rindu ini menyapa. Aku tidak peduli jika tengkuk ini terasa keram, aku hanya peduli tentang manakala sosokmu akan menyembul dari balik awan. Tidak lupa senyuman manis dan lambaian tangan yang dahulunya meniadi penghangat diri dalam rengkuhan. Dalam bayangan saja semua itu ter...

masa lalu: pelajaran yang sulit diterapkan

MASA LALU katanya biarlah berlalu, dia hanya akan mengganggu seperti benalu. Masa lalu hanya menorehkan warna-warna gelap pada kehidupan yang putih. Masa lalu memberi noda pada kehidupan yang bersih dari segala masalah. Masa lalu akan kembali datang sebagai luka yang tersisa di masa depan. Masa lalu,sudah sepatutnya disudutkan di sudut ruangan yang tidak akan dijamah. Kalau perlu, masa lalu mesti diremukkan kemudian diharapkan menguap tanpa sisa. Itu anggapan orang-orang dengan masa lalu yang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang salah sebenarnya, hany saja ketika berusaha untuk meniadakan masa lalu, bukankah itu hal yang mustahil? Seperti kita berusaha menghilangkan bagian dari diri kita yang juga ikut lahir dan tumbuh bersama. Tidak masalah juga untuk membenci masa lalu, setiap dari kita punya cara menghadapi yang sesuai dengan kemampuan kita sendiri. Namun, bukankah amat disayangkan apabila masa lalu yang begitu susah payah kita lalui kemudian dienyahkan? Kadang-kadang aku juga in...

adik kita

KATANYA adik kita memang kelakuannya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Adik kita ingin hidup bebas, dia telah menjadi anak liar di luar sana. Menikmati hidup tanpa aturan dalam suatu keluarga. Menjadikan temannya sebagai tempat mengemban kebahagiaan dan meramu kenyamanan. Sementara keluarga hanya tempat adik kita nerasa jengah, jenuh, marah, dan tidak ada patuh-patuhnya sama sekali. Adik kita memang sudah remaja dan akan beranjak dewasa. Kita menjadi lepas tangan, bahkan melambaikan tangan untuk merangkul dan mengayominya kembali. Segala cara dan upaya telah dikerahkan demi membuat sdik kita nyaman bersama kita. Entah kita yang kurang telaten dalam mendidik atau memang adik kita yang sudah tidak lagi ingin kita didik. Kita memang marah karena adik kita tidak tumbuh seperti apa yang kita harapkan, kita ekpektasikan. Adik kita tetap menjadi adik kita yang tidak kita inginkan. Sejatinya, hati kita penuh kasih dan belai sayang untuknya. Namun, kita sudah lelah, sudah benar-benar menyerah....

cintai cinta bersama dengan lukanya

 Aku jatuh lagi Setelah kian lama mengurung diri Dari apa-apa yang pernah melukai Namun, kali ini aku kembali Bersenandung dalam elegi Dari malam sampai temu pagi Tidak jua hilang patahnya hati Sementara kuharus menyinari Namun, kali ini aku redup sendiri Ini tentang hati Awalnya aku hanya jenuh Akhirnya aku terjatuh Tadinya aku mampu dan patuh Kali ini aku sampai-sampai luruh Pertama-tama aku mengayuh Makin lama kian terasa ingin mengeluh Harusnya aku tidak dikejutkan karena runtuh Namun, kamu membuatku runtuh Sepertinya ruang hatiku tengah keruh Ini masih tentang hati yang tengah berteduh Kemudian apa aku harus marah? Nyatanya aku masih tersenyum padamu Lagi pula kamu tidak bersalah  Sejatinya, rasa itu aku sendiri yang meramu Aku sadar betul, aku yang berulah Sementara kamu hanya singgah sebagai tamu Aku sendiri yang membiarkan rasa itu makin parah Kamu hanya menikmati apa yang kujamu Mungkin aku seperti kehilangan arah Sebab, di hatiku mulai kehilanganmu  Tunggu dulu,...

hopes and expectations

PADA AKHIRNYA , segala sesuatu ditentukan bagaimana cara kita meramu harapan dan ekspektasi sebetulnya, tidak ada yang benar-benar keliru dengan apa-apa yang diharapkan, apalagi diekspektasikan kita sama-sama tahu, semua itu murni timbul dengan sendirinya, hanya saja, berjalan lurus dengan perasaan Sementara, perasaaj manusia itu unik Pun, sementara kita lupa untuk membarengi pikiran sebagai salah satu cara logis dalam merakit solutif Akan tetapi, kadang-kadang kita terlalu memanjakan rasa sampai-sampai kita patuh untuk memupuk harapan dan ekspektasi Tanpa sadar, kita menjadi abai terhadap apa-apa yang akan dihadapi di depan sehingga melupakan bahwa ada langkah-langkah yang ditinggalkan di belakang sana Akibat terlalu sibuk merajut harapan sampai cantik, menjahit ekspektasi begitu apik. Kita jadi lupa bahwa tidak semua yang terjadi akan sesuai dengan apa yang dirajut dan dijahit Ibaratnya, bahan kain yang halus dan lembut kemudian dibuat menjadi pakaiaj untuk dipakai. Kita sebagai penj...

hari pengakuan

HARI INI kamu telah memantapkan hati untuk mengakui apa yang selama ini tersembunyi. Bersama waktu-waktu yang membuat uring-uringan. Tatkala hari yang melaju menjadi saksi akan merebaknya persembunyian yang sudah tidak dapat menampung rahasia tersebut. Pada akhirnya, pengakuan menjadi satu-satunya solusi daripada harus meledak dan memborbardir ruangan—sungguh kamu tidak kuasa menghadapi situasi tersebut. Dengan segala pertimbangan, menarik napas dalam-dalam, ditahan beberapa detik, kemudian dibuang pelan-pelan. Itu yang kamu lakukan ketika merasa gugup di kala pacuan jantung meledak-ledak. Sementara, hari pengakuan itu masih beberapa jam lagi. Matahari pun masih bersolek di belahan dunia lain. Namun, kamu masih tampak gugup di bawah jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Kamu sama terpakunya dengan letak jam tersebut. Kamu sama seperti jam itu, sama-sama berkalut dengan waktu. Hanya saja, jam menuntun waktu sampai hingga di titik dua puluh empat kemudian kembali mengulangi si...