Langsung ke konten utama

Postingan

when fall in love with the good human

HERAN ketika orang-orang menyia-nyiakan orang baik dengan alasan, “Maaf, kamu terlalu baik buat aku.” Entah karena mereka tidak menyukai orang baik atau memang menjadikan alasan basi itu sebagai penolakan atas alasan yang sebenarnya? Tidak ada yang salah juga sebenarnya, kadang-kadang daripada menyakiti hati orang lain lebih baik membual. Namun, bukankah dengan melakukan bualan tersebut secara tidak langsung akan menyakiti orang tersebut, ya? Ah, kalau membahas perkara cinta dari segala sisi memang rumit dan perlu pikiran jernih untuk berasumsi. Namun, ya, sudahlah, aku memakluminya karena cinta suka jatuh di orang-orang yang tidak pernah kita duga, ‘kan? Walaupun sebenarnya ada sisi beruntungnya juga kalau kita tidak mencintai seseorang yang terlalu baik. Jangan berpikir yang kontradiktif dahulu, hei, ayo luruskan lagi berpikirmu. Maksudku, orang baik pasti akan berlaku baik ke semua orang, ke siapa pun itu. Biasanya orang baik akan mudah disukai oleh orang-orang di sekitarnya, bisa ...

like sad ending story

AKHIR-AKHIR ini aku suka menonton film dengan akhir menyedihkan. Dahulunya, sama sekali tidak kusukai akhir alur cerita yang membuang air mataku. Bahkan, sampai-sampai rela membeli beberapa paket tisu sebagai pelipur tangis—meski tidak mempan juga. Parahnya, kubeli beberapa kaset dengan syarat cerita mesti memaksakan air mata keluar. Anehnya, kalau tidak ada uang untuk membeli kaset terbaru dengan indikasi tadi—film akhir menyedihkan—akan kuputar ulang film-film yang kulabeli paling menyedihkan. Percayalah, dahulunya aku bukan penikmat film, apalagi penggila alur cerita sedih. Sama sekali kubenci film drama romantis, tetapi kini menobatkan diri sebagai salah satu pencinta film-film yang dahulunya tidak kusukai. Tidak segan-segan, aku melempar tatapan sinis dan ... jijik—bukan dalam konotasi buruk, melainkan itu reaksi spontan. Namun, kurasa aku meyakini bahwa roda tidak melulu di atas, nyatanya saat ini aku tengah berada di posisi sebaliknya. Posisi yang dahulunya kupandsng aneh, kali...

tentang cinta yang aneh

NAMAKU CINTA ketika kita bersama, bahkan ketika tidak bersama pun, nama cinta itu makin semerbak menguar. Sebetulnya, kalau dipikirkan baik-baik, cinta itu bukan tentang kebersamaan yang akrab. Ketika dua manusia mengarungi hari-hari dengan kisah romantis. Di kala pagi dihiasi kicauan sayang satu sama lain. Sementara malam menjadi bintang-bintang dari kasih yang indah untuk dipandang. Tidak seperti itu juga, barang kali cinta itu tentang apa-apa yang tidak melulu membersamai. Bisa jadi cinta itu tentang rindu yang kemelut, tentang temu yang berkalut. Namun, apa pun itu, bahwa cinta bukan perihal bersama atau tidak bersama, cinta itu perihal ketidakadaan yang ada dan nyata. Biar kuceritakan tentang cinta tanpa temu yang terjadi. Ketika klausa menjadi perantara, ketika jarak menjadi sekat, tetapi bisa-bisanya cinta itu terajut pelan-pelan. Dalam dunia yang serbamudah ini, ketika bicara dapat dihantarkan melalui sinyal. Namun, aku cukup beri perhatian, meski berujung tanda tanya besar. ...

aku tidak bisa

AKU JUGA maunya berhenti, kalau bisa pergi jauh-jauh saja darimu. Pun, aku maunya mengempaskan saja dirimu ke arah yang raib dari pandanganku. Namun, aku ini siapa sampai-sampai berani bertindak layaknya punya kuasa atasmu? Jika kupegang kendali kuasa tersebut, aku tidak mungkin bisa menghunusmu dengan api kemarahanku. Nyatanya, ketika aku yang bukan siapa-siapamu, ketika aku yang tidak akan pernah memiliki kuasa atasmu, aku tidak punya nyali untuk mengusirmu. Bukan, maksudku, aku yang tidak mau kaujauh dariku. Ternyata aku sendiri yang tidak mau melakukan semua itu. Sederhananya, keberadaanmu di sekitarku itu sudah lebih dari cukup. Namun, aku menghadapi sebuah keputusan yang membutuhkan pertahanan diri lebih besar. Sering kali aku menjadi perempuan yang lara seorang diri. Dalam lara itu, aku membentuk pikiran-pikiran yang entah terjadi atau tidak sama sekali. Akan tetapi, aneh memang, rangkaian otak ini memilih untuk mengumpulkan asumsi buruk. Ia selalu menggertak pada hati yang u...

seperti skenario

KITA duduk bersisian di atas rumput hijau yang mulai menguning. Ini sore yang dirimu janjikan untuk bersua, setelah kian lama kunanti-nantikan sore ini. Dalam skenario yang tersusun apik di kepala, bak proyektor yang memiliki perasaan. Dialog kita di sana bersahutan tanpa kendala, ekspresi kita sama sekali tidak padam, bahkan angin sungkan untuk sekadar bernapas di sekitar. Kita seperti dua manusia yang memendam cinta, tinggal tunggu tumbuhnya saja. Skenario yang kuciptakan memang indah sampai-sampai aku melupakan bahwa itu hanyalah skenario belaka. Lama sekali kita berkutat pada keterdiaman yang memakan waktu bermenit-menit. Sejujurnya, aku khawatir sekali waktu kita akan habis, sementara kata-kata belum juga memberontak keluar dari mulut yang terkatup rapat. Skenario yang kubikin tidak berjalan semulus yang kubayangkan. Hanya ada kita berdua, tidak ada sutradara yang mengendalikan skenarioku. Baiklah, tidak ada salahnya jika aku bertindak sebagai sutradara sekaligus pemeran, 'k...

Skripsialan & Perbandingan Anak Tetangga

BERJALAN gontai setelah turun dari mikrolet ugal-ugalan. Selama perjalanan tadi, tak henti-hentinya mengumpat dalam hati. Sudahlah hari ini penuh cobaan, harapan awal dapat menyelesaikan bimbingan. Namun, dosen yang mulia sama sekali tak menampakkan wajahnya. “Pak, saya Eka, apa ada Bapak Sandi? Saya mau bimbingan, sudah membuat janji,” kata Eka tadi siang ketika memasuki sebuah ruangan berisi seorang pria paruh baya sibuk dengan laporan di meja. Pria itu mendongak sebentar memperhatikan Eka yang sedikit membungkuk di ambang pintu. Sebagai sikap penghormatan, taklupa mengembangkan senyum. Sebetulnya, perempuan itu sudah celingak-celinguk ke seisi ruangan yang takbesar ini. Sampai pandangannya jatuh di meja sudut kanan berhadapan dengan meja bapak itu. Eka melengos, meja milik dosen pembimbingnya kosong, takada kehidupan. Bapak itu menggeleng seraya kembali menatap laporannya. “Tidak ada, beliau sudah pergi beberapa menit lalu.” Eka menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pel...

rencana kabur dari rumah

SEBENARNYA aku mau-mau saja sih diajak kabur dari rumah. Kusimak baik-baik wajah serius adik di depanku ini. Dekil karena main layangan terus dan muram karena dimarahi habis-habisan sama bapak. Awalnya kesal, lama-lama kasihan juga. Aku mendengkus, tetapi gara-gara dia juga akhirnya aku kena damprat bapak. “Nanti lu ambil tuh pisang goreng sama bakwan di meja yang tadi dibeli sama bapak, buat pasokan aja sehari dua hari, Mbak.” Kali ini anak laki itu mulai berbisik dengan tajam seperti sorot matanya. Kuputar bola mata. “Gorengan mana kenyang sih? Nyangkut di tenggorokan doang.” Dia kembali terdiam, disapunya seisi kamar yang gelap, hanya ada cahaya lampu dari luar jendela. Kira-kira kami sudah terdiam di kamar sekitar setengah jam. Tidak berani untuk keluar kamar karena pasti akan disambut dengan pelototan bapak yang siap-siap menghunus kami. Aku tahu isi pikiran bocah tengik itu, menyelami sekiranya barang apa saja yang mesti dibawa untuk rencana kabur nanti. “Lagian ngapain sih ...